Sabtu, 28 Juli 2012

Ramadan Zaman Komedi


Ramadan Zaman Komedi
Bandung Mawardi ; Pengelola Jagat Abjad Solo
JAWA POS, 28 Juli 2012

RAMADAN di Indonesia menjelma menjadi ''bulan tertawa''. Serbuan acara-acara komedi di televisi telah mendefinisikan Ramadan. Suguhan komedi menjelang sahur dan berbuka menjelaskan ritus tertawa memberikan hiburan dan kealpaan. Refleksivitas atas peristiwa sahur dan berbuka memudar oleh ibadah menonton televisi: tertawa! 

Pengondisian tersebut mirip pusaran ilusif. Penonton menaruh diri sebagai ''umat komedi''. Mereka dialpakan atau mengalpakan diri dari permenungan Ramadan. Lapar dan haus justru ditebus melalui tertawa sepanjang hari. Esktase komedi. Tragis!

Rezim komedi di bulan Ramadan telah berlangsung sekitar enam tahun. Pemilik dan pembuat program komedi belum jenuh. Publik pun masih ''mengimani'' acara komedi. Kita mencatat puluhan acara komedi ''mengambil alih'' waktu-waktu reflektif selama umat menjalankan ibadah Ramadan. 

Pilihan waktu dan jenis garapan komedi kentara menjelaskan ''kudeta makna'' atas pengalaman batiniah dan waktu sakral dalam rujukan iman. Orang berpuasa seolah memerlukan ''obat mujarab'' demi melupakan atau menghapuskan lapar. ''Obat mujarab'' itu adalah acara komedi dengan cerita-cerita murahan dan pendangkalan nalar-imajinasi oleh para komedian.

Televisi adalah pusat ''peribadatan komedi''. Umat menempatkan diri secara masal di pelbagai ruang demi menonton televisi. Adegan-adegan ganjil itu telah menjelma menjadi kelaziman selama Ramadan. Penonton mungkin melampiaskan hasrat-hasrat picisan dengan mengonsumsi suguhan komedi. Puasa memang ibadah, tapi menonton acara komedi pun ''hampir'' ibadah harian. Indonesia memang negeri komedi. Ramadan memang menjadi ''bulan komedi''. Kita hidup di rezim komedi!

Veven Sp. Wardhana (2009) mengingatkan, endemi komedi di Indonesia justru menebar manipulasi realitas dan refleksi sosial. Publik telanjur mencandui komedi. Penggarap acara kome­di lekas mengolah siasat murahan. Acara-acara komedi picisan disuguhkan tanpa memikirkan bobot atau misi adab. Ukuran terpenting adalah jumlah penonton dan pendapatan. Veven Sp. Wardhana berseru bahwa komedi dan tertawa mengalami reduksi makna di suguhan acara-acara televisi. Acara komedi sengaja mempermainkan logika dan menjatuhkan refleksi di titik nadir. Kita diajari untuk ''taat'' dan tertawa oleh ''ketololan''.

Kita semakin bergerak ke zaman tanpa adab. Komedi sebagai mekanisme nalar-imajinasi dalam kesejarahan adab di Yunani telah dijungkirbalikkan. Komedi adalah representasi refleksi manusia atas realitas. Pertautan bentuk-ungkapan komedi mencipta gairah pemaknaan. Refleksi pun mengajak orang mengolah makna dengan rujukan agama, sastra, filsafat, sains, politik. 

Komedi yang semula bergerak dari jagat ''teater'' telah menderas ke televisi sebagai garapan picisan. Komedi dicerabut dari akar historis. Garapan acara komedi malah sengaja dimaksudkan untuk ''membodohi'' demi kapital dan popularitas. Milan Kundera memang pernah memberikan konklusi: abad XX adalah abad humor. Pengertian itu perlahan dijatuhkan ke selebrasi murahan dan pendangkalan ekspresi peradaban. 

Gejala paling apes adalah agenda suguhan komedi di televisi mencipta ''komedian'' tanpa kompetensi. Kaum selebritas masuk-terlibat di acara-acara komedi tanpa modal. Mereka seolah melupakan misi komedi. Kita mafhum bahwa penggampangan di acara komedi tak memerlukan ''pengetahuan'' dan ''pembelajaran''. 

Komedi adalah urusan tertawa. Pemaknaan itu ''menghinakan''. Komedi sengaja diajatuhkan ke pengertian paling rendah: tertawa. Mereka mungkin ingin mengajak penonton mengalpakan selebrasi komedi ala para komedian masa lalu. Dominasi komedi di televisi telah menepikan ingatan atas selebrasi ''kemajemukan ekspresi'' dan ketokohan.

Rezim komedi selama Ramadan memberikan godaan picisan, tapi publik-penonton turut melanggengkan. Kita mungkin getir meski sulit memberikan ralat. Kita terus mendapati penambahan jumlah para komedian dari kalangan selebritas. Kita terus mendengar dan melihat ketaatan penonton di depan televisi. Mereka tertawa dan menghibur diri sepanjang hari. 

Kuasa televisi dan dominasi selama Ramadan menjelaskan bahwa publik ''memerlukan'' hiburan di saat menjalankan ibadah puasa. Pendefinisian ibadah bercampur dengan agenda-agenda hiburan tanpa melibatkan rujukan-rujukan religius. 

Ramadan sebagai momentum reflektif berganti dengan ritus menonton televisi sepanjang hari. Pemaknaan lapar dan tubuh-religius diintervensi oleh hasrat tertawa. Ramadan memang mengajarkan lapar, tapi publik-penonton justru mengantarkan diri ke pusaran ilusif: komedi. 

Ramadan sebagai ''bulan komedi'' membuat KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) dan MUI (Majelis Ulama Indonesia) sibuk melakukan penilaian atas suguhan acara komedi di pelbagai stasiun televisi. Mereka mesti telaten mengurusi acara komedi televisi berpamrih etis, hukum, bisnis, agama. 

Acara-acara komedi telah menjelma tanda seru atas kondisi pertelevisian dan realitas Indonesia. Kegandrungan atas acara-acara komedi di televisi mengartikan publik berada di kegamangan iman dan identitas. Mereka kehilangan rujukan dari jagat politik, pendidikan, ekonomi, sosial, kultural. Televisi menjadi sandaran atas ''kegagalan '' dan ''kerapuhan'' untuk identifikasi diri. Agenda menghibur diri dengan mengonsumsi acara komedi di televisi mungkin menjadi ''obat mujarab'' ketimbang merana.

Kita hidup bersama para pecandu komedi. Selebrasi Ramadan sebagai keberlimpahan komedi mencipta ''kegersangan'' makna. Agenda mengon­sumsi acara komedi ''menepikan'' undangan-undangan refleksi atas iman, identitas, kemanusiaan, peradaban. Ritus tertawa justru mengubah Ramadan sebagai bulan popularitas dan uang bagi para selebritas. Acara-acara komedi di televisi pun menjelma menjadi ''ibadah masal'' demi pamrih-pamrih pragmatis. 

Seakan kita lupa peringatan Kanjeng Rasul: Janganlah engkau memperbanyak tawa karena banyak tawa mematikan hati (Riwayat Ibnu Majah). Begitu. ●

Tidak ada komentar:

Posting Komentar