Sabtu, 29 Desember 2012

Inggris Menjauh dari Uni Eropa


CATATAN 2012
Inggris Menjauh dari Uni Eropa
KOMPAS, 26 Desember 2012


Wacana Inggris keluar dari Uni Eropa semakin kencang. Jika sebelumnya wacana Yunani keluar atau Grexit (Greek exit) sempat mengemuka, istilah Brixit (British exit) juga tak kalah bergema sepanjang tahun ini.

Apalagi, saat ini zona euro sudah hampir tiga tahun berada dalam krisis. Publik Inggris semakin keras menyerukan keluarnya Inggris dari UE. Alasan keluarnya Inggris dari UE dapat dibagi dua: alasan sejarah dan propaganda.

Ketika Masyarakat Ekonomi Eropa—yang kemudian lebih dikenal dengan nama Uni Eropa (UE)—didirikan dengan dukungan penuh Jerman dan Perancis, Presiden Perancis Charles de Gaulle memveto upaya masuknya Inggris ke UE. Demikian pula dengan rakyat Inggris. Baru pada 1975, rakyat mengizinkan Inggris masuk UE.
Seiring dengan perjalanan waktu, keadaan berubah. Pada tahun 1975, Partai Konservatif merupakan pihak yang paling pro-UE. Sementara bagi Partai Buruh, UE hanyalah klub kaum kapitalis.

Saat ini, sebagian besar anggota parlemen dari kubu Konservatif merupakan mereka yang sangat skeptis terhadap euro. Hanya seperempat dari pemilih Konservatif yang ingin tetap di UE.

Tak sedikit pula pengusaha yang lebih senang Inggris keluar dari UE. Menurut jajak pendapat di The Observer, 56 persen rakyat Inggris ingin keluar dari UE. Kampanye keluar dari UE juga sudah ditiupkan dalam satu dekade terakhir oleh media berhaluan kiri.

Belakangan, isu-isu ekonomi, seperti perbankan dan jasa finansial, yang menyatukan negara-negara UE dipandang sebagai ancaman terhadap supremasi London sebagai ibu kota finansial Eropa.

Sedikit demi sedikit Perdana Menteri Inggris David Cameron mengubah posisinya terhadap hubungan Inggris dan UE. Satu tahun lalu, Cameron mengatakan dia tidak akan siap melihat Inggris keluar dari UE.

Sekarang dia mengatakan, masa depan Inggris di luar UE sudah dapat dibayangkan. Satu tahun lalu, dia menentang rencana referendum tentang masuk atau keluar UE. Sekarang, dia hanya memerlukan pemungutan suara segera.

Selasa (18/12), Cameron menambah panjang daftar penolakan terhadap kebijakan UE. Dia mengatakan tidak akan menandatangani inovasi UE dalam beberapa hal, termasuk yang paling baru, yaitu Tentara Eropa.

Sebelumnya, Inggris telah mengatakan tidak terhadap kesepakatan mata uang tunggal euro, persetujuan Schengen untuk membuka perbatasan, kesatuan fiskal, dan yang terakhir tentang uni perbankan Eropa. Inggris semakin tak nyaman dengan kebersamaan di UE.

Sikap ini tentu membuat jengkel para petinggi UE. Jerman sering berselisih pendapat dengan Inggris, yang oleh Jerman dituduh berstandar ganda.

Cameron mengatakan kepada anggota zona euro untuk melakukan banyak hal demi menyelamatkan mata uang bersamanya. Namun, Inggris tak menawarkan bantuan dan mengabaikan permintaan konsultasi mengenai berbagai keputusan besar, seperti rekapitalisasi perbankan.

Di Brussels, Cameron mengatakan kepada UE agar berhati-hati supaya pasar tunggal mereka tidak pecah. Namun, di sisi lain dia justru berkeras bahwa aturan perdagangan bebas harus berlaku untuk semua. Berlin berpendapat, pengaturan kembali aturan mengenai pasar tunggal akan memunculkan permintaan peningkatan proteksi dari berbagai negara.

Dampak Keluar

Sebenarnya, apa dampak bagi Inggris jika benar-benar keluar dari UE? Dilihat dari sisi keuangan, Inggris dapat menghemat banyak. Maklum, untuk menjadi anggota, UE menarik iuran yang lumayan besar, sekitar 13 miliar dollar AS per tahun. Jumlah ini dapat digunakan untuk keperluan lain.

Namun, sebaliknya, dengan bergabung dalam UE, harga pangan bisa menjadi lebih murah. Secara multilateral, negara-negara dapat memangkas hambatan impor, termasuk untuk produk pertanian.

Ada juga dampak terkait aturan ketenagakerjaan. Menurut aturan UE, ada pembatasan jumlah maksimum jam kerja, yakni 48 jam dalam sepekan. Jika aturan ini tak mengikat Inggris lagi, hak pekerja tetap dan pekerja tidak tetap akan menjadi sama. Tentu hal ini disambut baik oleh dunia usaha. Selain itu, kejayaan London sebagai ibu kota finansial akan muncul lagi.

Sebaliknya, apa ongkosnya bagi Inggris? Ekspor susu olahan Inggris akan terkena pajak impor sebesar 55 persen untuk dapat masuk ke pasar UE. Beberapa jenis barang akan kena tarif impor sebesar 200 persen. Industri komponen juga akan terkena tarif impor sebesar 4 persen di UE.

Inggris juga dapat mengadakan perjanjian perdagangan dengan negara lain. Pengalaman Liechtenstein, Norwegia, dan Swiss yang membentuk kelompok European Free Trade Association (EFTA) selama ini menunjukkan, tak tertutup kemungkinan untuk bernegosiasi dengan UE dalam hal perdagangan.
Masih banyak cara dan jalan untuk berkembang di luar UE.

Jadi, tampaknya kata Brixit akan kita dengar semakin sering hingga pemilihan umum Inggris yang dijadwalkan tahun 2015. (THE Economist/CNBC/Reuters/joe)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar