Sabtu, 29 Desember 2012

Wajah Islam Indonesia


Wajah Islam Indonesia
Nazar Nurdin ;   Peneliti Muda di Lembaga Penelitian IAIN Walisongo Semarang
SUARA KARYA, 28 Desember 2012



Islam Indonesia sejatinya hanya ada satu. Ia kaya warna, dan bermacam bentuknya. Menjadi suatu "kenistaan" ketika Islam Indonesia yang satu diklaim milik kelompok tertentu. Kemudian mereka leluasa menjustifikasi doktrin agama melalui otoritas penafsiran tunggal yang dimilikinya. Sayangnya, sebagian besar masyarakat kita tidak sigap dan ketakutan melihat tingkah mereka. Kalaupun ada yang berani, hanya berani pada tataran wacana.
Meski demikian, ada hal yang patut dikritisi bersama. Barangkali kita semua sepakat, ada sejumlah kelompok ekstrim yang mengatasnamakan Islam dengan membuat klaim doktrinal untuk menindas kelompok yang lain, yang tentu dinilai berseberangan. Ini fakta, bukan semata soal penafsiran.
Islam Indonesia sebagai mahkota keberagaman yang disegani di luar justu rapuh di dalam. Gema takbir lebih erat dengan slogan peperangan. Mereka yang percaya menganggap Islam benar hanya versi mereka (kaffah). Tidak diperbolehkan ada penafsiran lain kecuali penafsiran kelompoknya. Ini yang sesungguhnya menurut penulis berbahaya untuk kehi-dupan keberagamaan di Indonesia.
Wajah Islam Indonesia memiliki nilai kekhasan, dibandingkan Islam di negara lain. Sebagai negara mayoritas muslim, Islam Indonesia menanamkan identitas kultural beragama. Ia tidak arabisme atau kearab-araban, fundamentalisme dan liberalisme. Islam Indonesia merias wajah keislamannya dengan kearifan lokal. Hasilnya, sebuah harmoni baru bagi kearifan budaya kultural Indonesia.
Untuk itu, Tholchah Hasan agak bijak ketika memetakan wajah Islam Indonesia. Pertama, faktor geografis, demografis dan multikultur. Pemikiran keagamaan dapat terbentuk lewat alam atau lingkungan. Maka, perbedaan pandangan lumrah dalam kondisi ini. Tamsil masyarakat pesisir yang berwatak keras, temperamental dan terbuka.
Kedua, proses akulturasi dan inkulturasi. Ada anggapan bahwa agama Hindu, Budha, Islam datang di Indonesia secara damai dan secara bersamaan. Perlu diingat, bahwa agama yang datang tidak hanya membawa misi religius, tapi membawa aspek budaya. Maka, wajar jika sekarang terjalin suatu keakraban untuk saling bertukar budaya. Mozaik dan warna-warni keberagaman terbentuk.
Wajah Islam Indonesia beragam karena ada ragam penafsiran teks. Perbedaan penafsiran dari berbagai masa menjadi aneka mozaik keberagaman. Ditambah dengan kondisi sosial politik dan arus globalisasi dan pengaruh sosio-kulturnya membentuk masyarakat menjadi terbuka, ilmiah dan rasionalis. Celakanya, globalisasi datang bersama dengan sikap masyarakat yang materialis, individualis dan hedonis.
Indonesia (nusantara) hadir dari semangat kebangsaan yang dipupuk dalam sanubari masyarakat lokal. Semangat untuk berjuang menunjukkan rasa cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sejarah Islam yang datang ke Indonesia, tampak beradaptasi dengan baik.
Sumber inspirasi bagi keberagaman masyarakat Indonesia telah ada sejak lama. Hanya tinggal menggali saja. Itu pun kalau masyarakat Indonesia bersedia menggali khazanah intelektualnya. Ini yang kemudian memberi kesan bahwa Islam Indonesia telah lama hadir dan berdialektika dengan masyarakat lokal.
Islam Indonesia memberi ruang gerak yang luas, bahkan "bebas" bagi para pemeluknya. Islam menjamin kebebasan memilih agama sejalan dengan kehendak hatinya. Islam pula yang turut mengilhami para pemeluknya untuk menanamkan nilai kasih, damai kepada sesamanya. Namun, lewat penafsiran manusia, Islam juga bersifat ambigu. Satu sisi, Islam hadir dengan balutan konsep kasih sayang kepada sesama makhluk Tuhan, siapapun dan di manapun. Di sisi lain, ada anjuran untuk memerangi mereka yang tidak sejalan dengan penafsiran agama.
Sekali lagi, penafsiran ajaran Islam memberi pernyataan yang multitafsir, sehingga bertolak belakang dengan dorongan pada sikap keberagaman. Namun, ini bukan jatidiri Islam Indonesia. Ini menjadi tugas bersama, bagaimana ajaran Islam masih sangat memerlukan kajian mendalam sesuai dengan kontekstualisasi wilayah masing-masing.
Perlu digarisbawahi, ajaran Islam bersifat universal. Dinamika lokal sebagai manifestasi keuniversalan ajaran Islam harusnya diselipkan doktrin keramahan/perdamaian yang memuat kepingan unsur local wisdom, tatanan budaya untuk turut serta ambil bagian dalam khazanah Islam Indonesia.
Untuk itulah, dalam rangka merumuskan kajian Islam nusantara akan terasa sangat menyulitkan. Model pengkajian atas rumusan yang didasarkan pola pengamatan dan pengalaman tidak mempunyai nilai visioner yang jelas. Butuh penelitian mendalam agar Islam Indonesia menjadi Islam yang unik.
Sementara ini, kita tidak perlu khawatir soal ruang identitas Islam Indonesia. Selama Indonesia masih bercokol organisasi-organisasi sosial-keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, Mathaliul Anwar, Persis, al-irsyad, DDI, Perti, al-washliyah, dan lainnya secara intens mengawal eksistensi model dan corak Islam Indonesia.
Ia dipraktekkan secara kultural oleh masyarakat Muslim Indonesia. Eksis-tensi Islam dalam menggali jatidirinya tidak perlu dikhawatirkan lagi. Pasalnya, semua lembaga keagamaan mengusung misi yang sama, agar Islam Indonesia terus berkibar di Indonesia maupun dunia. Tugas pemerintah adalah menjaga agar umat Islam Indonesia menjadi umat yang tahan banting dari berbagai gempuran, baik dari dari luar maupun dari dalam yang ingin menghancurkan Islam. Patut waspada, jika gempuran dari dalam akan jauh berbahaya daripada gempuran dari luar, yang secara nalar bisa dipetakan dan dicarikan solusi kreatifnya.
Akhirnya, Islam Indonesia masih butuh kajian mendalam, agar eksistensinya bisa diterima semua kalangan. Mari kita jaga Islam Indonesia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar