Rabu, 29 Mei 2013

Menagih Janji Gubernur Baru

Menagih Janji Gubernur Baru
Paulus Mujiran ;  Alumnus Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang
KORAN SINDO, 29 Mei 2013 


Pasangan calon Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Heru Sudjatmoko (GAGAH) tampil secara fenomenal dalam Pilgub Jawat Engah, Minggu (26/5). 

Hasil hitung cepat Indo Barometer menempatkan kemenangan Ganjar Pranowo-Heru pada kisaran 46,88% melampaui Bibit-Soedjiyono 31,83% dan pasangan Hadi Prabowo-Don Murdono 21,27%. Sebagai pendatang baru kemenangan sementara ini amatlah menarik. Kekalahan pasangan petahana Bibit-Soedjijono secara telak tentu mengejutkan banyak kalangan. 

Sebagai salah barometer politik nasional, Pilgub Jateng juga mampu menghapus mitos kuatnya petahana atau incumbent yang melekat dalam pilkada. Hasil Pilgub sementara ini juga mempertontonkan seorang petahana yang didukung banyak partai politik besar tidak selalu menang ketika muncul calon alternatif yang dianggap memiliki program unggulan dalam menyelesaikan masalah. Kemenangan Ganjar-Heru memperlihatkan beberapa hal. 

Pertama, perilaku publik yang menentukan pilihan berdasarkan pembelaan terhadap siapa yang dipersepsikan tidak berdaya. Pasangan Bibit-Soedjijono digambarkan sebagai kekuatan petahana yang tentu tidak mudah dikalahkan. Lewat pengalaman menjadi gubernur dan rektor perguruan tinggi kuatnya penguasaan media, besarnya dana yang tersedia, serta pencitraan yang terbentuk melalui lembaga survei Bibit-Soedjijono berubah menjadi sosok raksasa yang tidak mungkin dikalahkan. 

Slogan “Semut Melawan Gajah” rupanya efektif menggiring persepsi publik Jawa Tengah akan perlawanan orang kecil melawan orang besar. Apalagi berulang kali Bibit sudah menyatakan dirinya pasti menang. Banyaknya penghargaan yang diterima Jawa Tengah membuat Bibit begitu yakin. Pasangan Bibit-Soedjiyono memang diusung oleh partaipartai besar, seperti Partai Demokrat, Golkar, PAN. 

Sementara Hadi Prabowo-Don Murdono diusung oleh PKS, PKB, PPP, Gerindra, Hanura, PKNU. Pasangan Ganjar-Heru hanyalah didukung oleh PDIP yang menguasai 23 kursi DPRD Jawa Tengah. Kedua, pada saat yang sama, kemenangan Ganjar-Heru menunjukkan gerakan kelas menengah atas yang menghendaki perubahan. Catatan Indo Barometer memperlihatkan 36% kelas menengah memberikan suaranya kepada pasangan Ganjar- Heru. 

Meminjam William Lidle (1999) penguasaan kelas menengah merupakan potensi membawa perubahan. Kemenangan pasangan Ganjar-Heru hampir di semua wilayah Jawa Tengah menunjukkan warga Jawa Tengah menghendaki wajah yang baru. Ketiga, makin tidak efektifnya berfungsinya mesin partai. Meski didukung dengan banyak partai seperti Hadi Prabowo- Don Murdono, mesin partai tidak berjalan maksimal. Begitu juga dengan mesin partai besar pendukung Bibit-Soedijono yang tidak berjalan. 

Faktor PDIP bukan terletak pada mesin partai, melainkan figur seperti Jokowi, Puan Maharani dan Megawati yang sangat berpengaruh dalam pemenangan Ganjar-Heru. Figur-figur yang ada dalam PDIP lebih menjadi daya tarik utama ketimbang sosok yang maju dalam Pilgub Jateng. Hadi Prabowo-Don Murdono ikut kena getah gonjang-ganjing PKS dengan kasus impor daging sapi yang mau tidak mau memengaruhi persepsi publik terhadap pasangan Hadi Prabowo- Don Murdono. 

Sementara Bibit-Soedijono ikut terpengaruh dengan kasus korupsi yang melanda kader-kader Demokrat. Apalagi, kampanye hitam yang muncul di beberapa tempat Bibit dianggap pendukung koruptor dengan latar belakang foto Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum, dan Angelina Sondakh. Keempat, Pilgub Jawa Tengah kali ini diwarnai dengan menurunnya suara golput dari 43% pada Pilgub 2008 menjadi 42% saat Pilgub 2013. 

Berkurangnya angka golput menunjukkan kembalinya kepercayaan pemilih kepada kandidat yang berlaga dalam pilgub. Meski angka penurunan tidak besar, itu memotret tingkat partisipasi pemilih yang meningkat. Apalagi Pilgub Jawa Tengah diadakan pada Minggu sehingga banyak warga bisa datang ke TPS. Kemenangan sementara dalam quick count pasangan Ganjar-Heru menarik karena bisa menjadi inspirasi munculnya sosok yang sebelumnya tidak diperhitungkan.

Pasangan yang lama tinggal di luar Jawa Tengah tetapi mampu merebut kepemimpinan di Jawa Tengah tentu fenomenal. Tentu saja kemenangan sementara ini mampu mengangkat moral PDIP dalam Pemilu 2014. Kekalahan PDIP di banyak tempat seperti menemukan momentumnya dalam Pilgub Jawa Tengah. Semula banyak orang percaya kemunculan Ganjar dalam Pilgub Jawa Tengah sebagai tindakan main-main karena Ganjar adalah orang baru di Jawa Tengah. 

Suara PDIP pun diperkirakan pecah dengan majunya kader PDIP yang lain, yakni Don Murdono dan mokongnya Rustriningsih. Faktor Rustriningsih diperkirakan menurunkan suara yang mendukung Ganjar- Heru. Namun, dengan kemenangan sementara ini, membuktikan Ganjar serius dan tidak main-main karena didukung kader-kader sampai level akar rumput. Kemenangan sementara ini mencerminkan publik Jawa Tengah menghendaki adanya figur alternatif. 

Masyarakat Jawa Tengah seperti “menghukum” sosok Gubernur Bibit yang dalam banyak kesempatan tampil secara kontroversial dan suka memaksakan kehendak. Tindakan Bibit itu berhasil dikapitalisasi adalah pernyataan soal Jatilan dan konflik dengan Jokowi dalam pembangunan bekas pabrik es Saripeteojo di Solo. Masyarakat Pati tentu juga masih ingat soal Bibit yang berencana membangun pabrik semen di sana secara sewenang-wenang. 

Karena itu, lepas dari beragam latar belakang yang berpengaruh dalam kemenangan ini, masyarakat Jawa Tengah rupanya tengah “menghukum” Bibit yang cenderung kontroversial. Strategi kampanye yang merakyat dengan penampilan tidak berkumis, berbaju batik, dan tidak mengenakan peci ternyata lebih memikat ketimbang yang memakai jas. Ketika yang lain memilih kampanye di tempat terbuka dengan mengerahkan massa sekaligus mengobral janji, Ganjar memilih cara-cara yang sederhana dengan blusukan dari kampung ke kampung. 

Dan kenyataan model kampanye yang sangat sederhana dan tidak muluk-muluk justru memperoleh simpati rakyat Jawa Tengah yang sudah sangat haus perubahan. Dalam pilgub, rakyat memang sudah saatnya disodori kader-kader alternatif yang berkualitas agar menentukan pilihan. Parpol harus berani mencari calon yang berkualitas yang dinilai layak. Sudah saatnya rakyat disodori calon alternatif dan yang berbeda dari kebiasaan Kehendak mengalami perubahan merupakan aspirasi rakyat yang tidak bisa diabaikan begitu saja. 

Yang kini menjadi pekerjaan rumah penting adalah bagaimana pasangan Ganjar-Heru mampu menuntaskan permasalahan Jawa Tengah yang kian kompleks seperti kemiskinan, pengangguran, serta penuntasan pembangunan infrastruktur seperti proyek jalan tol Semarang– Solo. Apakah dalam 100 hari pasangan ini mampu menunjukkan program-program pro rakyat? 

Pengalaman menjadi anggota DPR 2 periode harus diuji dengan menangani Jawa Tengah dengan masalah yang lebih pelik dan penanganan serius. Tentu waktulah yang akan membuktikan. Yang tidak kalah berat dengan hanya didukung PDIP dan 23 kursi di DPRD Jawa Tengah harus mampu bermitra dengan DPRD. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar