Sabtu, 30 November 2013

Hubungan Dagang RI-Australia tidak Signifikan, tapi Sangat Penting

Hubungan Dagang RI-Australia tidak Signifikan,
tapi Sangat Penting
Fajar B Hirawan  ;   Peneliti Ekonomi CSIS Jakarta,
Sedang mengambil program PhD di University
MEDIA INDONESIA,  28 November 2013

  

“Hubungan kedua negara sangat penting, khususnya bagi Indonesia yang masih berusaha untuk mewujudkan ketahanan pangan.”

HUBUNGAN diplomatik antara Indonesia dan Australia dalam seminggu terakhir sangatlah memprihatinkan. Media di Indonesia dan Australia tidak henti-hentinya memberitakan hubungan yang tidak harmonis di antara kedua negara tersebut. Hubungan itu semakin mengkhawatirkan ketika beberapa pihak di luar pemerintahan, seperti para politikus dan penasihat mereka, memberikan pernyataan yang tak semestinya dilontarkan karena cenderung menambah keruh suasana.

Kondisi tersebut justru lebih memancing kemarahan di kedua belah pihak, khususnya seperti unjuk rasa yang terjadi di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta menjelang akhir pekan kemarin. Kasus penyadapan terhadap beberapa petinggi negara di Tanah Air yang dilakukan oleh Australia atas dasar laporan mantan agen intelijen Amerika Serikat, Edward Snowden, memang akan menimbulkan polemik terhadap kedua negara. Menlu Marty Natalegawa sempat memberikan pernyataan yang cukup keras agar pemerintah Australia meminta maaf.

Namun sayangnya, respons pemerintah Australia tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh pemerintah dan publik Indonesia. Atas dasar itulah, hubungan Indonesia dan Australia masih belum pulih. Akhirnya berimbas pada peninjauan kembali terhadap beberapa perjanjian yang berkaitan dengan isu perbatasan negara, kerja sama militer, dan penyelundupan manusia atau yang lebih sering disebut people smuggling.

Kemudian, apakah hubungan yang tidak harmonis ini berpengaruh pada hubungan perdagangan bilateral? Sebagai negara yang bertetangga, idealnya rasio perdagangan di antara kedua negara berada pada kisaran 10% atau b lebih jika dibandingkan dengan l perdagangan kedua negara dengan negara-negara lain di dunia. Namun, sangatlah mengejutkan jika kita melihat rasio nilai ekspor Australia ke Indonesia terhadap nilai ekspor Australia ke seluruh dunia yang hanya berada pada kisaran 2% pada kurun 2010-2012 berdasarkan data yang dikeluarkan oleh United Nations Commodity Trade Statistics Database (UN Comtrade).

Rasio rendah

Adapun rasio nilai impor Australia dari Indonesia terhadap nilai impor Australia dari seluruh dunia juga sangat rendah, yaitu hanya sekitar 2,5%, pada kurun waktu dan dari sumber data yang sama. Angka tersebut sangatlah jauh dari apa yang seharusnya terjadi pada hubungan perdagangan kedua negara yang letaknya cukup berdekatan secara geografis. Berdasarkan angka tersebut, bisa dikatakan bahwa hubungan perdagangan Indonesia dan Australia tidak cukup signifikan.

Berdasarkan data dari UN Comtrade, kita juga dapat melihat besaran nilai ekspor dan impor kedua negara selama kurun 2010-2012. Nilai ekspor Australia ke Indonesia pada 2010 sebesar US$4 miliar dan meningkat tajam pada 2011 pada kisaran US$5,5 miliar, dan baru pada akhirnya turun kembali sekitar US$4,8 miliar di 2012. Sebaliknya, nilai impor Australia dari Indonesia justru mengalami tren peningkatan dari sekitar US$4,7 miliar di 2010, naik menjadi US$6 miliar pada 2011, dan akhirnya konsisten meningkat pada 2012 di kisaran US$6,4 miliar.

Data tersebut menunjukkan bahwa nilai ekspor Australia ke Indonesia lebih rendah ketimbang nilai impor Australia dari Indonesia. Maka dari itu, sepanjang 2010-2012 Australia mengalami defisit perdagangan dengan Indonesia, sementara Indonesia mengalami surplus. Padahal jika melihat data mengenai nilai perdagangan Australia ke seluruh dunia, Australia mengalami surplus perdagangan dalam kurun tiga tahun terakhir.

Tercatat surplus perdagangan Australia dari kegiatan ekspor dan impornya dengan seluruh negara di dunia berkisar US$10 miliar-US$30 miliar sepanjang 2010-2012, dengan surplus perdagangan terbesar terjadi pada 2011. Maka dari itu, hubungan perdagangan dua negara ini cukup menguntungkan Indonesia karena selama 2010-2012 Indonesia mengalami surplus perdagangan secara konsisten.

Selanjutnya, jika ditelaah lebih jauh mengenai komoditas yang diperdagangkan serta bagaimana pangsa pasar komoditas tersebut di negara masing-masing, akan lebih terlihat betapa pentingnya hubungan perdagangan di antara kedua negara. Sepanjang 2010-2012, empat komoditas Indonesia terbesar yang diekspor ke Australia berdasarkan nilai ekspornya secara berurutan ialah bahan bakar, produk batu dan kaca, produk mesin dan elektronik, serta produk logam. Adapun empat komoditas Australia terbesar yang diekspor ke Indonesia selama 2010-2012 secara berurutan ialah produk sayuran, produk logam, produk hewan, dan produk mesin dan elektronik.

Saling membutuhkan

Dari komposisi tersebut dapat terlihat bahwa Indonesia dan Australia saling membutuhkan, khususnya untuk Indonesia ketika kita sampai saat ini masih mengimpor sayuran dan hewan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Ketahanan pangan di Indonesia dengan konsep kemandirian pangan memang masih memerlukan waktu yang tidak pendek untuk mewujudkannya. Hal tersebut masih terlihat dari arus impor produk sayuran dan hewan dari luar negeri, khususnya Australia, untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional.

Berkaitan dengan pangsa pasar komoditas Indonesia di Australia dan sebaliknya, selama 2010-2012, empat komoditas Indonesia yang cukup besar pangsa pasarnya di pasar Australia ialah produk batu dan kaca (12%), bahan bakar (10%), produk alas kaki (6,65 %), dan produk logam (3,51%). Adapun empat komoditas Australia yang pangsa pasarnya cukup tinggi di pasar Indonesia ialah produk hewan (24,15%), produk sayuran (22,14%), produk mineral (10,29%), dan produk logam (5,22%).

Berdasarkan data pangsa pasar tersebut, secara eksplisit dapat terlihat bahwa kedua negara sama-sama memiliki peran bagi kebutuhan masyarakatnya. Indonesia dalam hal ini bisa dikatakan sangat membutuhkan pasokan hewan dan sayuran untuk memenuhi kebutuhan pangan di dalam negeri, terlepas dari karakteristik Indonesia sebagai negara agraris yang seharusnya dapat memenuhi kebutuhan pangannya tanpa bergantung pada negara lain.

Jadi, hubungan perdagangan Indonesia dan Australia memang tidak signifikan. Akan tetapi, jika ditinjau lebih jauh lagi, terlihat bahwa hubungan perdagangan kedua negara sangat penting, khususnya bagi Indonesia yang masih berusaha untuk mewujudkan ketahanan pangan. Pernyataan yang pernah disampaikan oleh PM Australia Tony Abbott di awal kepemimpinannya, yakni `more Jakarta, less Geneva', sebaiknya dijadikan momentum baik bagi hubungan kedua negara, bukan justru menjadikannya sebagai pernyataan yang menunjukkan ketidakpercayaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar