Senin, 30 Juni 2014

Yogyakarta

Yogyakarta

Bre Redana  ;  Penulis Kolom “Catatan Minggu” di Kompas
KOMPAS, 29 Juni 2014
                                                
                                                                                         
                                                      
Setiap kali ke Yogya saya tidak akan melewatkan makan ayam goreng Mbah Cemplung dan mangut lele Mbah Marto, keduanya di desa di Kabupaten Bantul. Yang istimewa dari Yogya bagi saya adalah makanan rakyat dan semangat kerakyatannya. Semangat kerakyatan: satu padu meniadakan perbedaan.

Benar, apa sih yang tidak berhasil ditekuk oleh semangat kerakyatan Yogya? Heri Pemad, CEO Heri Pemad Art Management (HPAM) yang kini tengah menyelenggarakan pameran seni rupa kontemporer bernama ArtJog di Taman Budaya Yogyakarta, sempat mencemaskan ”sakralitas” seni di tengah hura-hura pengunjung. Sudah dikenakan tiket masuk untuk membatasi pengunjung (tahun-tahun sebelumnya gratis), setiap hari pameran tetap dijubeli pengunjung. Mereka berfoto-foto di depan berbagai karya kontemporer, yang bagi sebagian besar pengunjung barangkali dianggap benda-benda aneh.

”Sejumlah seniman mempertanyakan apresiasi pengunjung. Apa ArtJog ini nanti tidak jadi tempat hura-hura belaka...,” ucap Heri Pemad. ”Meskipun saya juga gembira, karena pemasukan tiket,” tambahnya tertawa.

Tentu saja, pertanyaan tadi tidak seberapa serius kalau dibanding, misalnya, pertanyaan soal pemalsuan karya di dunia seni rupa. Apalagi dibanding pertanyaan bagaimana nasib bangsa kalau jatuh di tangan salah satu calon presiden nanti.

Dari waktu ke waktu, dari zaman ke zaman, sebenarnya di Yogya tidak pernah ada dikotomi di antara berbagai gejala yang berlawanan. Entah itu seni murni atau pop, serius atau main-main, modernitas atau tradisi, olo utowo becik kata orang Jawa, semua berjalan sebagaimana adanya, seperti keberadaan siang-malam. Rasanya, tak pernah mendengar wacana pertentangan pendapat, misalnya, turisme versus nilai-nilai lokal. Di daerah-daerah lain, orang suka meramaikan omong kosong seperti itu. Untuk Yogya, semua biasa-biasa saja.

Seusai nongkrong di Sangkring Art Space bersama kolektor dan kurator dari Jakarta dan Singapura, terus cari makan di kampung. Semua senang. Teman cewek, manajer komunikasi merek terkenal dari Jakarta, paling bahagia kalau makan gudeg pawon, di sebuah dapur di kampung di Yogya.

Gejala modernisme, atau yang mutakhir sekarang gejala kontemporer, tidak pernah membuat Yogya gagap. Pulang dari New York di awal tahun 1970-an dulu, dramawan Rendra mengusung dari Sophocles sampai Ionesco di panggung. Toh, itu tak membuat Bengkel Teater dikenang sebagai kelompok teater Barat? Roh Rendra dan Bengkel Teater adalah roh kaum urakan dari Parangtritis.

Begitu pun pelukis Affandi yang menorehkan ekspresionisme Barat dan memiliki mobil-mobil sport mewah di zamannya. Rasanya, tak ada yang menganggap Affandi sebagai manusia kebarat-baratan dan hedonis. Dia dikenang sebagai sosok sangat merakyat—beda dibanding kaum berpunya zaman ini yang mengaku dekat dengan rakyat.

Itu semua merupakan gejala khas Yogya. Hip hop dari New York, di Yogya diterjemahkan menjadi Jogja Hip Hop Foundation yang main di kampung-kampung, dengan lirik dan ucapan bahasa Jawa. Lewat liriknya, mereka melontarkan kritik sosial yang sangat relevan dengan lingkungannya. Sikap politis pendiri Jogja Hip Hop Foundation, Marzuki Kill the DJ, bisa kita lihat di televisi saat ini dengan dukungannya kepada salah satu calon presiden.

Begitu pun kafe-kafe, yang dianggap merupakan bagian gaya hidup urban. Rasanya tetap berbeda nongkrong di Via Via Cafe di Prawirotaman atau Epic Coffee di Sleman, dibanding di kafe-kafe di Jakarta. Di Yogya, tetap terasa semangat kerakyatan serta melebur atau kalisnya sesuatu yang baru, berbeda, the other, liyan. Yang kontemporer dan tradisional, yang modis dan ndeso, yang serius dan plesetan, berkoeksistensi damai. Jangan itu terusik oleh gerombolan yang mencoba menyeragamkan segala hal.

Itu yang membuat kami kangen Yogya. Bersama Guru Besar Persatuan Gerak Badan Bangau Putih Gunawan Rahardja, kami nanti akan ramai-ramai ke Yogya. Makan di Mbah Cemplung, mengunjungi galeri kontemporer, ke Mendut, Merapi, dan lain-lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar