Kamis, 23 April 2015

Peran Asia Timur di Perekonomian Dunia

Peran Asia Timur di Perekonomian Dunia

Rachmat Gobel  ;   Menteri Perdagangan RI
MEDIA INDONESIA, 22 April 2015

                                                                                                                                                           
                                                                                                                                                           

ASIA Timur memiliki peranan penting bagi perekonomian dunia. Sebanyak 22,5% GDP dunia bersumber dari negara-negara kawasan ini, dengan tingkat pertumbuhan di 2014 mencapai 3,6% dibanding tahun sebelumnya, lebih tinggi jika dibandingkan dengan tingkat pertumbuhan dunia yang hanya mencapai 3,4%. Pertumbuhan ekonomi tertinggi dialami Tiongkok yang tumbuh 7,4% jika dibandingkan dengan tahun lalu, diikuti Korea, Taiwan, Hong Kong, dan Jepang (3,7%, 3,5%, 3,0% dan 0,9%). Selain itu, Asia Timur memiliki economic size yang besar, yakni 22,2% populasi dunia berada di kawasan ini. Jumlah ini ditopang oleh Tiongkok dengan jumlah populasi 1,3 triliun jiwa. Dengan economic size yang besar itu, Asia Timur, terutama Tiongkok menjadi produsen sekaligus pasar yang sangat menjanjikan.

Dari seperlima penduduk dunia yang berada di Asia Timur, meningkatnya proporsi kelas menengah menjadi perhatian tersendiri. Populasi kelas menengah di dunia pada 2030 diperkirakan meningkat dua kali lipat. Pertumbuhan paling tinggi akan dialami Asia, sehingga 64% populasi kelas menengah akan berada di Asia, terutama di Tiongkok.Sementara itu, kelas menengah di Eropa dan AS diperkirakan akan turun dari 50% terhadap total kelas menengah dunia, hingga hanya mencapai 22%.

Kelas menengah merupakan faktor ekonomi yang sangat penting, terutama bagi negara-negara berkembang karena sebagai mesin penggerak pertumbuhan ekonomi. Kelas menengah, menurut Mario Pezzini pengamat ekonomi OECD, menjadi fondasi yang kuat bagi perkembangan ekonomi suatu negara dengan mengendalikan permintaan konsumsi domestik. Pada 1980-an, di Brasil jumlah kelas menengahnya hanya mencapai 29% dari total populasi, sementara kelas menengah di Korea Selatan telah mencapai 53% dari total populasinya. Jumlah kelas menengah tersebut telah menjadikan Korea Selatan bergeser dari negara yang pertumbuhan ekonominya berbasis ekspor menjadi berbasis konsumsi domestik. Hal yang serupa terjadi di Brasil yang kelas menengahnya kini mencapai 52%.

Tumbuh signifikan

Lebih dari 50% investasi FDI Asia Timur berasal dari negara-negara di kawasan Asia Timur sendiri. Tiongkok dan Hong Kong merupakan negara investor terbesar bagi kawasan Asia Timur yang masing-masing menyumbang 15,1% dan 33,6% terhadap total investasi. Sementara itu, negara-negara di Asia Timur lebih banyak melakukan investasi di luar Asia Timur dengan pangsa 63,9% dari total outflow. Namun, Tiongkok masih merupakan negara utama tujuan investasi negara-negara di Asia Timur dengan pangsa 17,4%, diikuti Hong Kong sebesar 16,8%, dan AS 12,3%. Untuk negara ASEAN, Singapura dan Indonesia, merupakan tujuan utama investasi Asia Timur.

Negara di Asia Timur juga memegang peranan penting dalam peta perdagangan dunia. Asia Timur menguasai 21,5% ekspor dan 22,9% impor dunia. Di antara negara– negara Asia Timur, Tiongkok merupakan eksportir ke-1 dan importir ke-2 dunia dengan nilai ekspor dan impor US$2,2 triliun dan US$1,9 triliun pada 2013. Nilai tersebut setara dengan lebih dari 50% pangsa ekspor dan impor Asia Timur dengan dunia.

Sementara itu, Jepang yang merupakan negara maju berasal di Asia Timur ialah eksportir dan importir ke-4 dunia dengan pangsa 4% dan 4,5% terhadap ekspor impor dunia pada 2013. Adapun Jepang, mengalami kecenderungan penurunan ekspor, selama periode 2009-2013 turun sebesar 3,5%. Penurunan ini ditengarai sebagai imbas dari kontraksi ekonomi di Jepang. Korea Selatan sebagai negara dengan nilai perdagangan ketiga terbesar di Asia Timur merupakan eksportir ke-7 dan importir ke-8 dunia, meskipun pangsanya tidaklah lebih dari 4% total ekspor maupun impor dunia di 2013.

Dilihat dari neraca perdagangan dengan dunia, Tiongkok, Korea Selatan, dan Taiwan merupakan negara di Asia Timur yang mengalami kenaikan surplus neraca perdagangan selama periode 2010-2013. Sementara itu, neraca perdagangan Jepang selama 3 tahun terakhir justru mengalami kenaikan defi sit neraca perdagangan, bahkan di 2013 mencapai US$118,1 miliar. Hong Kong merupakan satu-satunya negara di Asia Timur yang selalu mengalami defi sit neraca perdagangan selama 2010-2013.

Secara rinci, ekspor yang terjadi di an tara negara-negara Asia Timur pada 2014 mencapai US$1,3 triliun, atau setara dengan 34,5% dari total ekspor Asia Timur ke dunia. Sementara untuk perdagangan ekstra regional Asia Timur, AS, Singapura, Jerman, Vietnam, dan Belanda merupakan negara tujuan utama dengan nilai ekspor masing-masing mencapai US$598,4 miliar (pangsa 15,8%), US$108,5 miliar (pangsa 2,9%), US$99,8 miliar (pangsa 2,6%), US$89,1 miliar (pangsa 2,4%), dan US$84,2 miliar (pangsa 2,2%). Adapun ekspor Asia Timur ke ASEAN sebesar US$507,5 miliar (pangsa 13,4%), dengan ekspor ke Indonesia mencapai US$70,6 miliar (pangsa 1,9%). Untuk kawasan ASEAN, secara umum ekspor Asia Timur terlihat hampir merata.

Dilihat dari komoditas ekspornya, 91,9% ekspor Asia Timur merupakan produk manufaktur dan sisanya komoditas primer (didasarkan atas data ekspor 2013). Untuk komoditas manufaktur, secara umum didominasi oleh telepon seluler dan komputer portabel dengan nilai US$229,7 miliar atau kurang lebih 6% dari seluruh ekspor Asia Timur. Tidak jauh berbeda dengan kinerja ekspornya, impor intra-Asia Timur pada 2014 mencapai US$1,2 triliun (pangsa 33,1%). AS, Australia, Arab Saudi, Jerman, dan Malaysia merupakan negara utama asal impor di luar Asia Timur yang masing-masing mencapai US$292,6 miliar (pangsa 8,2%), US$178,6 miliar (pangsa 5,0%), US$156,5 miliar (pangsa 4,4%), US$145,6 miliar (pangsa 4,1%), dan US$109,1 miliar (pangsa 3,1%). Impor Asia Timur dari ASEAN mencapai US$478,1 miliar (pangsa 13,5%), sementara impor Asia Timur dari Indonesia mencapai US$80,6 miliar (pangsa 2,3%).

Impor Asia Timur didominasi oleh impor produk manufaktur dengan pangsa sebesar 57,0%, sisanya merupakan komoditas primer (pangsa 43%). Produk manufaktur yang paling banyak diimpor ialah electronic integrated circuits, sementara produk primer yang paling banyak diimpor ialah petroleum oils. Dalam kaitannya dua kawasan yang saling berdekatan, Asia Timur merupakan mitra dagang penting bagi ASEAN. Sebesar 35% ekspor ASEAN ditujukan ke Asia Timur dan 38,8% impor ASEAN berasal dari Asia Timur. Lebih lanjut, selama lima tahun terakhir, 2009-2013, Indonesia, Malaysia, dan Singapura selalu mengalami surplus neraca perdagangan dengan Asia Timur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar