Senin, 15 Mei 2017

Di Bawah Pohon Sukun Tembi

Di Bawah Pohon Sukun Tembi
Bre Redana  ;   Wartawan Senior Kompas
                                                          KOMPAS, 14 Mei 2017

  

                                                           
Banyak orang tahu katanya kecerdasan buatan berupa peranti-peranti digital yang menggantikan kerja otak kita dalam mengingat, menghitung, memproses data—algoritma istilahnya—akan segera banyak mengambil alih pekerjaan manusia. Syukurlah. Semenjak manusia bukan melulu gejala otak melainkan juga raga dan roh, mudah-mudahan teknologi juga segera menghadirkan keragaan buatan dan roh buatan. Untuk yang terakhir itu, perantinya kira-kira keimanan buatan. Pengedarnya banyak di negeri ini.

Dengan demikian, seperti fungsi otak yang kini perlahan-lahan kita lumpuhkan dengan memori buatan, nantinya kita juga melumpuhkan fungsi tubuh dan fungsi roh dengan keragaan buatan dan keimanan buatan. Kita menjadi manusia buatan seutuhnya.

Siapa tahu dengan itu hidup menjadi lebih mudah. Kebutuhan dan keinginan tercukupi oleh segala yang buatan alias artifisial secara seketika. Kecenderungan kita ke arah itu telah tampak. Khotbah para motivator kita percaya, untuk bagaimana kaya mendadak atau mengumpulkan uang banyak dalam waktu singkat. Sangat inspiratif. Mereka yang cerdas cukup mengambil substansinya dan melakukan dengan cara yang lebih efisien: korupsi.

Wah, itu dosa…. Siapa bilang? Itu kriteria kuno, milik mereka yang ketinggalan zaman yang masih percaya bahwa pikiran, tubuh, dan roh adalah tiga mutiara yang seharusnya mengalir menuju kebenaran, truth, kasunyatan.

Kita sekarang berada dalam dunia pasca-kasunyatan, Bung. Benar-salah tak ada bedanya, sama tak ada bedanya asli-palsu, nyata-tidak nyata, bohong-tidak bohong, dan seterusnya. Pendeknya, karena ini zaman post-truth, pasca-kasunyatan, kalau mau survive kalian harus menguasai ilmu bohong. Carilah mentor terbaik, yang mulutnya paling gencar berapi-api menyiarkan kebohongan. Dengan itu siapa tahu selain nikmat dunia kalian juga mendapat nikmat akhirat nanti, masuk surga makan apel sepuas kalian. Atau, bisa pilih tukang tikam dari belakang.

Hanya saja, setidaknya karena keragaan buatan dan spirit buatan belum sepenuhnya tersedia saat ini, maka saya mau saja diajak rombongan tukang olah tubuh dengan nama Tao Kung ke Yogyakarta, ke tempat tetirah di daerah Tembi milik Mas Nur. Di situ kami diajak bersama-sama melakukan latihan Tao Kung—terjemahan sederhananya senam kesehatan—untuk harmonisasi tubuh.

Kebetulan tempatnya mendukung. Selama beberapa hari kami tinggal di Tembi yang kiri-kanannya sawah. Sawah tengah dalam proses pengairan. Permukaan air sawah bergerak ritmis tertiup angin. Bagus sekali. Oksigen banyak. Sepertinya saat ini belum tersedia oksigen buatan. Untung alam menyediakan secara melimpah. Di bilik-bilik rumah bambu kami bangun pagi dengan segar, menghirup udara desa sepuasnya. Tak jauh dari situ, di belakang kampus Institut Seni Indonesia, ada mangut lele bikinan Mbah Marto, enak setengah mati.

Jadi ingat kata Guru: ingatlah, sejak dilahirkan sampai menjadi tua, manusia memerlukan suatu lingkungan hidup yang segar, nyaman, dan tenteram. Bukan lingkungan yang menyebabkan pikiran menjadi jenuh atau membuat sudut pandang menjadi pusat.

Betul juga, pembangunan urban sekalipun, apalagi di metropolitan-metropolitan penting dunia, makin diarahkan menuju ruang alami. Caranya macam-macam, dengan penghijauan, pembangunan taman kota, penyediaan ruang terbuka yang kian luas, dan lain-lain.

Di Jakarta, yang masalah urbanismenya kompleks karena kesenjangan lebar antara yang kaya dan miskin, gubernur membersihkan sungai, menata bantaran sungai, trotoar, kaki lima, termasuk mengubah area prostitusi menjadi ruang publik bagi keluarga. Dia melakukan langkah-langkah berani.

Di angkringan di bawah pohon sukun di Tembi di mana banyak orang waras otaknya karena oksigen yang berlimpah, siang itu semua terenyak mendengar kabar gubernur ini dijeboskan ke penjara. Apa salah dia, salah satunya bertanya dengan mata berkaca-kaca. Dia gagal paham, bahwa ini zaman pasca-kebenaran, milik mereka yang beriman pada kebohongan.