Rabu, 14 Juni 2017

Balada Sesatnya Akses ke PTN

Balada Sesatnya Akses ke PTN
Riduan Situmorang ;  Pengajar di Bimbel Prosus Inten-Medan; Pegiat Literasi dan Kebudayaan di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan Toba Writers Forum (TWF)
                                                     DETIKNEWS, 13 Juni 2017



                                                           
Menjelang pengumuman SBMPTN, Iqbal Aji Daryono menuliskan Balada Kaum yang Tersesat di Universitas (Detikcom, 6/6). Dalam sentilan itu, Iqbal menggelisahkan tentang betapa banyaknya mahasiswa yang tersesat di perguruan tinggi. Orang-orang tersesat inilah yang kelak menggembalakan negara ini.

Persoalannya, bagaimana mungkin orang tersesat akan menggembalakan warga? Saya justru yakin, mereka ini kelak akan menyesatkan warga!

Melengkapi sentilan Iqbal, Ardhie Raditya juga menuliskan Balada Kaum Korban Salah Urus Pendidikan (Detikcom, 12/6). Dalam tulisan itu, Ardhie menyoroti bahwa pada dasarnya dosen juga adalah orang-orang tersesat. Skemanya semakin mengerikan.

Betapa tidak, orang-orang tersesat ini (dosen) akan mendidik orang-orang tersesat pula (mahasiswa). Bayangkan, bagaimana kelak orang tersesat (mahasiswa) akan menggembalakan rakyat, sementara mereka saja dididik oleh orang-orang tersesat (dosen)?

Pada kesempatan ini, saya akan melengkapi dua tulisan tersebut. Saya akan menyoroti kesesatan sistem seleksi masuk PTN kita. Adalah fakta bahwa menjelang SBMPTN, pihak bimbel biasanya mengadakan acara doa bersama sebagai pelepasan dan pemberangkatan. Mengapa itu dilakukan dan apa itu perlu?

Menurut saya, acara pelepasan yang dikemas dalam bentuk try out, doa, dan motivasi itu perlu dilakukan. Ini mengingat bahwa bersaing masuk PTN melalui ujian tertulis ibarat memasuki lorong gelap. Kita tak tahu siapa musuh kita, siapa teman kita, bahkan mengapa kita gagal atau berhasil.

Pintar belum menjadi jaminan dan "bodoh" pun bukan berarti kutukan. Faktanya, ada banyak siswa yang diunggulkan akan masuk PTN malah gagal. Sebaliknya, ada beberapa orang yang tak diperhitungkan malah melenggang masuk.

Logos dan Mitos

Pada kasus ini, sebagai tutor di bimbel, kami sering menghadapi sikap orangtua (bahkan anak itu sendiri) bahwa masuk PTN adalah takdir. Seorang ayah pernah memisalkannya dari pengalaman dua orang anaknya.

Anak pertamanya masuk PTN, sementara anak keduanya tidak masuk. Padahal, pilihan kedua anaknya sama: jurusan dan universitasnya. Uniknya, anak pertama hanya mendapat rangking biasa-biasa saja, belajar seadanya, bahkan tak ikut bimbel.

Sementara anak kedua, selain dapat ranking, belajar keras, dia juga menghabiskan hari-harinya di bimbel. Namun, di kemudian hari, anak kedua itu tak lulus PTN. Atas pengalaman ini, orangtua (bjuga sang anak sendiri) menyebut bahwa masuk PTN ibarat berhadapan dengan mitos.

Tentu saja itu adalah kesesatan berpikir. Bagaimana mungkin kita yang hendak menjadi ilmuwan (logos) malah memercayai bahwa cara masuk ke sana adalah dengan cara takhayul (myth)?

Apakah memang sudah demikian halnya, bahwa masuk PTN itu adalah myth sehingga selama bertahun-tahun, setiap memberangkatkan siswa, kita akan menghadapi pengalaman yang identik, yaitu ratusan (untuk tidak menyebutkan semua) siswa menangis, meratap, merasa tak sanggup, memohon untuk didoakan, agar masuk PTN?

Menangis dan terharu adalah ekspresi biasa, apalagi kalau ekspresi itu lebih pada akan segera berpisahnya tutor dan siswanya. Namun, jika ekspresi ini adalah ekspresi ketakutan atas kegelapan ruang, ini tentu pantas dipikirkan bersama. Ini ibarat prajurit yang hendak berangkat ke medan perang. Kita tahu, di medan perang, semua medan (cuaca, lawan, kawan, senjata) masih gelap.

Berperang adalah melewati kegelapan. Karena itulah, setiap hendak berperang, berbagai literatur di dunia menarasikan adanya ritual dan pesta. Bahwa menuju perang adalah melawan kematian untuk mendapatkan kemenangan. Semestinya, seleksi masuk PTN tak perlu dideskripsikan sedemikian getir ibarat perang, bahkan serupa myth. Seleksi masuk PTN harusnya dirayakan sebagai kemenangan logos.

Memang, layaknya myth, logos juga akan selalu menyisakan pihak yang kalah dan yang menang. Hanya saja, kemenangan dan kekalahan dalam myth adalah sebuah misteri, sementara pada logos adalah cenderung sebagai statistika. Inilah kiranya yang belum ada pada seleksi masuk PTN kita. Seleksi bagi para calon ilmuwan justru dilingkupi ruang kegelapan myth: tak tahu mengapa menang, tak tahu pula mengapa kalah.

Tahun lalu, Budi Santosa (BS) menuliskan Transparansi SBMPTN (Kompas, 23 Juli 2016). Secara singkat, BS saat itu menggelisahkan mengapa sejak dari dulu, pola perekrutan mahasiswa tak pernah transparan. Transparan dalam artian yang lebih lugas, yaitu tahu mengapa lulus dan mengapa tidak.

Sebenarnya, saya sendiri semakin gelisah setelah membaca tulisan BS. Sebab, melihat posisi BS sebagai guru besar di PTN ternama, harusnya dia lebih tahu daripada kita kaum awam. Namun, faktanya BS sendiri malah tak tahu! Bahkan, pada artikel itu, BS menyebut bahwa pihak bimbel, seperti kami, justru lebih tahu informasi yang valid perihal passing grade (PG).

Harus Sadar

Pernyataan BS itu sangat mentah. Bimbel di mana pun tak pernah yakin dengan PG-nya masing-masing. Pendekatan PG hanya cara bimbel membuat mitos seleksi masuk PTN menjadi sesuatu yang logis. PG hanya statistika. Teknisnya, ketika seseorang lulus di prodi X, bimbel akan mendata berapa saja siswa itu benar dan berapa salah. Dari sana kita berhitung dan berspekulasi bahwa untuk lulus prodi X itu, nilainya harus minimal sekian.

Itulah sebabnya PG setiap bimbel selalu berbeda karena memang narasumbernya juga berbeda. Ini sudah cukup membuktikan bahwa bimbel sebenarnya tak punya data yang valid tentang PG. Lagi pula, jika PG memang murni dilakukan, barangkali akan ada sebuah kampus membludak dan kampus lain kosong.

Bayangkan, jika PG masuk ke jurusan X di universitas Y hanya 30 persen, lalu ada ribuan orang yang nilainya melebihi PG 30 persen, apakah ribuan orang itu akan diterima semua tanpa terkecuali?

Di sinilah pendekatan PG mentah oleh pendekatan daya tampung (DT). Karena itu, dalam nalar logis, cara masuk PTN ada pada kolaborasi antara PG dan DT. Masalahnya, jika pun kolaborasi PG dan DT ini yang diterapkan, bagaimana skema ini dirancang untuk menerima calon mahasiswa? Ini ditanyakan karena kolaborasi PG dan DT ini sama sekali tak sederhana.

Tak sederhananya adalah, dari ratusan ribuan pendaftar, tentu ada ribuan yang menginginkan jurusan yang sama. Dari ribuan itu, adalah sangat tinggi kemungkinan ada beberapa orang yang punya nilai yang sama. Pertanyaannya, bagaimana panitia perekrutan PTN menentukan siapa yang lulus dari mereka yang mempunya nilai yang sama itu? Apakah random, apakah alfabetis, apakah dari asal sekolah, apakah dari nomor peserta?

Inilah yang dari dulu terus-menerus masih dibalut kabut misteri. Misteri lainnya adalah ketika panitia—sependek yang saya ketahui—tak pernah mengeluarkan kunci jawaban. Di sisi lain, kita juga acap mendengar perjokian (antara panitia dan oknum). Belum lagi soal ujinya kadang masih prematur sebab ditengarai ada yang mempunyai jawaban ganda, ada pula yang tak ada jawaban.

Periksalah buku-buku bank soal masuk PTN dan pembahasannya. Di sana, kita akan menemukan fakta itu. Ironisnya, bukan hanya buku, bimbel yang satu ke bimbel yang lain pun sering memberikan jawaban yang berbeda. Karena itulah, (maaf) kami dari bimbel sering nakal dan mengatakan bahwa soal itu cacat. Kami tidak bermaksud menjengkali bobot soal, apalagi panitia. Barangkali, kami dari bimbellah yang tak bisa menjawabnya.

Hanya saja, apakah panitia tak pernah menyaksikan hal ini? Kalau pernah, mengapa panitia membiarkan masyarakat dalam lingkaran kebodohan dan ketidaktahuannya (myth)? Sudah saatnya kita membebaskan siswa dari kepungan myth. Jangan biarkan lagi siswa ibarat bertempur ke medan perang sehingga setiap tahunnya mereka menangis, merintih, bahkan merasa tak percaya diri.

Kita harus sadar, banyaknya "balada orang tersesat di universitas" adalah karena mereka merasa tak sanggup untuk menggapai minatnya. Alih-alih memilih jurusan yang sesuai minatnya, dia malah memilih jurusan yang sesuai arahan tutornya. Di sini, minatnya untuk kuliah bukan lagi untuk mengembangkan bakat, melainkan agar lulus PTN, meski tak diminati. Tak adakah niat dari kita mengakhiri kesesatan ini? ●