Senin, 19 Juni 2017

Watak Pancasila

Watak Pancasila
M Subhan SD  ;   Wartawan Senior Kompas
                                                         KOMPAS, 17 Juni 2017




                                                           
Tahun 1945, Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai menggelar sidang secara maraton. Tiga tokoh berpidato tentang dasar kemerdekaan. Pada 29 Mei 1945, Mohammad Yamin mengajukan rumusan lima dasar negara: 1) perikebangsaan, 2) perikemanusiaan, 3) periketuhanan, 4) perikerakyatan, 5) kesejahteraan rakyat. Soepomo berpidato pada 31 Mei 1945 tentang: 1) persatuan, 2) kekeluargaan, 3) mufakat dan demokrasi, 4) musyawarah, dan 5) keadilan sosial. Giliran Soekarno pada 1 Juni 1945: 1) kebangsaan Indonesia, 2) internasionalisme dan perikemanusiaan, 3) mufakat atau demokrasi, 4) kesejahteraan sosial, 5) Ketuhanan Yang Maha Esa. Bung Karno memunculkan nama Pancasila.

Itulah usulan dasar negara merdeka. Apakah yang dinamakan merdeka? Kata Bung Karno, kemerdekaan (political independence) adalah suatu ”jembatan emas”. Di seberang jembatan itulah masyarakat disempurnakan. Mengutip HC Armstrong (1938), Bung Karno menyatakan, Ibnu Saud (1875-1953) mendirikan Arab Saudi hanya semalam. ”Ibnu Saud mendirikan Arab Saudi merdeka di satu malam sesudah ia masuk kota Riyadh dengan enam orang. Sesudah ’jembatan’ itu diletakkan oleh Ibnu Saud, maka di seberang jembatan artinya kemudian dari pada itu, Ibnu Saud barulah memperbaiki masyarakat Arab Saudi,” kata Bung Karno.

Bayangkan, kata Bung Karno—mengutip Armstrong—”Tatkala Ibnu Saud mendirikan pemerintahan Arab Saudi, rakyat Arabia sebagian besar belum mengetahui bahwa otomobil perlu minum bensin. Pada suatu hari, otomobil Ibnu Saud dikasih makan gandum oleh orang-orang Badui di Arab Saudi itu! Toh, Arab Saudi merdeka!” Ibnu Saud kemudian memperbaiki masyarakat Arab Saudi setelah menggenggam ”jembatan emas”. Orang yang tidak dapat membaca lalu diwajibkan belajar membaca. Orang yang hidupnya nomaden, seperti orang Badui, dididik untuk tidak lagi nomaden sekaligus diberi tempat untuk bercocok tanam. Pola hidup nomaden itu diubah oleh Ibnu Saud menjadi kaum tani dan itu dilakukan setelah di seberang ”jembatan”.

Ada ilustrasi lain yang dikemukakan Bung Karno. Contohnya negara Uni Soviet (Rusia). Ketika Lenin (1870-1924) mendirikan Uni Soviet, apakah rakyatnya sudah cerdas? Ternyata, 150 juta rakyatnya, 80 persennya tidak bisa membaca dan menulis. Ketika Lenin mendirikan Uni Soviet, apakah telah memiliki Djnepprprostoff, bendungan besar di Sungai Djneppr (Dnieper)? Apa ia telah mempunyai radio station yang menyundul angkasa? Apa ia telah mempunyai kereta api yang cukup meliputi seluruh Uni Soviet? ”Tidak, tuan-tuan yang terhormat,” kata Bung Karno di depan peserta sidang, seraya menegaskan, ”Di seberang jembatan emas yang diadakan oleh Lenin itulah, Lenin baru mengadakan radio station, baru mengadakan sekolah, baru mengadakan Djnepprprostoff....”

Nah, dasar kemerdekaan itulah yang disampaikan Bung Karno agar ”jembatan emas” memiliki pilar-pilar yang benar-benar kokoh. Tidak goyah dalam bencana, ancaman, atau serangan apa pun juga. Setelah menguraikan empat prinsip (kebangsaan, internasionalisme dan perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial), Bung Karno justru menekankan prinsip kelima. ”Saudara-saudara apakah prinsip kelima? Prinsip yang kelima hendaknya menyusun Indonesia merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa.”

Bung Karno melanjutkan, ”Prinsip ketuhanan.... Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber-Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada egoisme agama. Dan, hendaknya negara Indonesia satu negara yang ber-Tuhan! Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam maupun Kristen, dengan cara yang berkeadaban. Apakah cara yang berkeadaban itu? Ialah hormat-menghormati satu sama lain.” Suara Bung Karno terhenti sesaat karena disambut tepuk tangan mereka yang hadir.

Kisah itu telah 72 tahun. Sebuah titik awal perjalanan negeri ini. Kini, jembatan emas yang dibayangkan Bung Karno dan para pendiri bangsa itu boleh jadi penuh debu. Pilar-pilarnya lapuk dan bisa keropos. Kebersamaan bangsa terlukai ketika sikap-sikap radikal dan intoleran marak. Terutama di media sosial; kehidupan bersama bangsa ini dilandasi saling cibir, saling sindir, saling curiga, saling fitnah, saling membunuh karakter, dan teror-meneror. Benar-benar ancaman jika sel kelompok radikal Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) terdeteksi di 16 daerah.

Maka, pembentukan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) mesti dipandang sebagai langkah konkret penguatan ideologi Pancasila. Pengalaman di masa Orde Baru yang mengajarkan dan mengamalkan Pancasila secara doktriner tentu menjadi pelajaran berharga. Pancasila adalah ideologi yang hidup. Ia tidak hanya hidup di awang-awang. Pancasila adalah soal sikap dan perilaku hidup sehari-hari. Misalnya, tidak melanggar lalu lintas, itu watak Pancasila. Sebaliknya, korupsi adalah watak yang anti-Pancasila. Dan, di negeri ini, tidak sedikit petinggi negara (terutama politikus) yang korup.