Jumat, 07 Juli 2017

Jalan Panjang Krisis Qatar

Jalan Panjang Krisis Qatar
M Ramly Syahir  ;   Alumnus Universitas Saddam Hussein, Baghdad, Iraq;
Pengasuh Pondok Pesantren Ulil Albab, Brumbungan Lor, Gending, Probolinggo
                                                        JAWA POS, 22 Juni 2017



                                                           
SUDAH tiga pekan ini krisis Qatar dengan tiga negara tetangganya belum menemui tanda-tanda menuju jalan damai. Berita kisruh krisis Qatar itu sebenarnya saya dapatkan saat saya berada di Jordania untuk melanjutkan lawatan saya ke Masjidilaqsha.

Para pemimpin yang tengah berseteru itu bukannya berupaya meredam tensi masing-masing. Namun, yang terjadi justru masih saling menunjukkan gengsi masing-masing. Senin lalu (19/6) Menteri Luar Negeri (Menlu) Qatar Muhamad bin Abdurrahman Ats Tsani mengeluarkan pernyataan bahwa negerinya tidak akan melakukan negosiasi apa pun kalau masih dalam bayang-bayang embargo.

Pernyataan Menlu Qatar itu semakin memperpanjang jalan menuju damai dalam krisis di kawasan teluk. Bahkan, Emir Kuwait Shabah Ahmad Jabir Ash Ashobah yang sejatinya diharapkan bisa menjadi penengah mulai enggan dengan sikap Qatar yang dianggapnya semakin menyulut eskalasi krisis di kawasan teluk.

Dari Arab Saudi dilaporkan bahwa pemerintah setempat mengultimatum bahwa kemarin merupakan hari terakhir bagi warga Qatar untuk meninggalkan negerinya. Sikap itu merupakan buntut dari semakin memanasnya hubungan empat negara teluk yang tengah bertikai yang berimbas pada warga sipil. Bahkan, tiga negara teluk yang bertikai (Saudi, Uni Emirat Arab/UEA, dan Bahrain) meminta sekitar 11.500 warganya juga harus meninggalkan Qatar. Sedangkan ada 1.925 warga Qatar yang terdapat di Saudi, Emirat, dan Bahrain.

Para pemimpin negara teluk yang bertikai itu juga mulai menggalang kekuatan dengan negara-negara Arab tetangganya. Kemarin putra mahkota UEA Syekh Muhamad bin Zaid An Nahyan bertandang ke Kairo, Mesir, menemui koleganya Abdul Fattah As Sisi. Dalam pertemuan bilateral itu, dibahas tentang pentingnya pemberantasan terorisme. Keduanya juga sepakat untuk membekukan bantuan kepada organisasi-organisasi yang terindikasi gerakan teroris. Pertemuan kedua negara itu pun semakin menguatkan dugaan betapa antar pemimpin masih saling menjaga gengsinya.

Pada saat bersamaan, pemimpin Saudi Raja Salman bin Abdul Aziz juga menerima kunjungan kenegaraan Perdana Menteri (PM) Iraq Dr Haidar Ubadi di Istana Ash Shofa di Makkah. Pertemuan kedua pemimpin yang pernah berseteru di zaman Saddam Hussein itu pun semakin membuat panas telinga Iran yang jelas-jelas berada di belakang Qatar. Dalam pertemuan tersebut, pihak Saudi membuka peluang kerja sama di berbagai sektor yang sebelum-sebelumnya tidak pernah dilakukan kedua negara bertetangga tersebut.

Kondisi saling jaga gengsi antar pemimpin negara teluk yang berseteru itu sebenarnya menjadi berkah bagi Israel untuk memainkan politiknya di kawasan teluk. Bahkan, pemimpin Israel Benjamin Netanyahu berharap krisis Qatar itu berlangsung lama dan mampu memberikan dampak politik bagi negerinya.

Warga Qatar yang terkena imbas penutupan perbatasannya dengan Saudi berharap krisis negerinya cepat selesai. Mereka khawatir, penutupan dalam waktu lama akan berakibat semakin sulitnya pasokan makanan pokok yang selama ini mereka dapatkan melalui jalur darat dari Saudi.

Namun, pihak Qatar mengklaim bahwa pasokan makanan ke negerinya masih aman. Bahkan, pihak penerbangan Qatar Airways merasa tidak terkena imbas pascakrisis yang menimpa negerinya. Tentunya, sebagai negara dengan kekayaan minyak dan gas alamnya, sikap jaga gengsi antarnegara yang terlibat dalam krisis Qatar itu memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyudahi perseteruan mereka.

Sikap jaga gengsi antar pemimpin negara-negara teluk yang tengah bertikai tersebut diprediksi akan semakin lama disertai dengan perang urat saraf. Dengan kekayaan yang sama-sama melimpah, proses jalan damai akan semakin panjang. Akan terasa sulit siapa yang akan memulai membawa ke meja perundingan.

Kita tunggu saja bermacam manuver yang akan mereka tunjukkan. Indonesia yang diharapkan mampu memainkan perannya masih belum melangkah ke arah sana. Padahal, kita punya Jusuf Kalla (JK) yang selama ini dikenal sebagai mediator ulung yang diyakini mampu membawa ke arah jalan damai.