Senin, 10 Juli 2017

Lebaran dan Hak untuk Bahagia

Lebaran dan Hak untuk Bahagia
Mimin Dwi Hartono  ;   Staf Senior Komnas HAM
                                                     DETIKNEWS, 24 Juni 2017



                                                           
Lebaran atau Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1438 Hijriah segera tiba. Umat Islam akan merayakan hari yang suci dan penuh suka cita itu pada 25-26 Juni 2017. Setelah 29 hari menjalankan ibadah puasa, puluhan juta orang berbondong-bondong merayakan Lebaran di kampung halaman untuk mengejar kebahagiaan sebagai bagian dari hak asasinya (right to pursue of happiness).

Mudik atau pulang ke kampung halaman dijalani oleh masyarakat antardaerah dan antarpulau. Arus mudik Lebaran di Indonesia adalah salah satu mobilitas manusia yang paling besar dan masif di dunia karena melibatkan pergerakan puluhan juta orang dengan berbagai moda transportasi. Para pemudik tidak hanya kalangan umat muslim saja, tetapi juga penganut agama dan keyakinan lainnya. Lebaran menjadi hari yang dirayakan oleh segala lapisan masyarakat dari semua strata.

Sebagai aktivitas tahunan yang melibatkan jutaan orang, arus mudik menjadi salah satu prioritas kebijakan pemerintah dari waktu ke waktu. Hal ini untuk memastikan agar masyarakat bisa menjalani mudik dengan aman dan nyaman. Peristiwa horor Brexit atau kemacetan total di pintu tol Brebes Timur Jawa Tengah pada Lebaran tahun lalu yang memakan 17 korban jiwa, menjadi pelajaran berharga agar tidak berulang.

Pemerintah membangun dan memperluas jalan tol, pelabuhan, bandara, stasiun dan terminal, agar prosesi mudik berjalan dengan lancar dan kebutuhan para pemudik atas alat dan sarana transportasi terfasilitasi. Demikian pula dengan fasilitas kesehatan dan pengamanan dipersiapkan secara maksimal.

Presiden Jokowi telah menargetkan bahwa sepanjang Pulau Jawa akan terkoneksi dengan jalan tol pada 2018. Target ini sudah mendekati kenyataan dengan sudah terbangunnya jalan tol sepanjang ujung barat di Provinsi Banten hingga Kabupaten Batang Jawa Tengah. Terbangunnya jalan tol ini membantu dan memperlancar mobilitas masyarakat, barang dan jasa.

Hakikat Lebaran

Masyarakat rela untuk berjam-jam antre di jalan tol atau di pelabuhan demi merayakan Lebaran. Lebaran berasal dari suku kata "lebar" yang berarti usai atau selesai menjalankan ibadah puasa Ramadan. Artinya, pintu ampunan telah terbuka lebar melalui silaturahmi antarsesama manusia (habluminanass).

Sebagai tradisi yang wajib dan selama bertahun-tahun telah dijalani, berbondong-bondongnya masyarakat merayakan Lebaran di kampung halamannya adalah untuk mempererat dan memperluas silaturahmi serta saling bermaaf-maafan dengan orangtua, keluarga, kerabat, dan tetangga sebagai ikhtiar untuk mendapatkan kebahagiaan lahir dan batin.

Silaturahmi berarti bertemu dan berkumpul untuk mempererat hubungan sesama muslim dan dengan Tuhan. Silaturahmi adalah tanda-tanda seseorang beriman kepada Tuhan. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maha hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi."

Di era media sosial ketika kehidupan orang tidak bisa lepas dan sangat tergantung pada gadget, silaturahmi menjadi sesuatu yang semakin langka. Ucapan selamat berlebaran yang biasanya disampaikan secara langsung dan face to face, digantikan hanya dengan berkirim SMS, telepon, dan whatsup.

Alih-alih mempererat silaturahmi, komunikasi via gadget justru semakin menjauhkan kita dari kerabat, saudara, dan teman dekat. Hal ini karena makna silaturahmi digeser hanya berupa sharing informasi dan komunikasi dengan mengirimkan kata-kata dan gambar yang dikirim dari gadget. Perasaan, empati, dan hati, sebagai esensi dari silaturahmi dikesampingkan. Komunikasi antarmanusia digantikan dengan komunikasi antarmesin.

Akibatnya, timbul dis-informasi, mis-komunikasi, perselisihan, perseteruan dan permusuhan. Hal ini misalnya bisa lihat dan rasakan pada saat Pilkada Jakarta hingga hari ini. Komunikasi dan beredarnya aneka informasi via media sosial telah merusak silaturahmi karena ego dan fanatisme politik yang dibalut dengan unsur suku, agama, ras dan antargolongan.

Posting-an status di Facebook dibalas dengan posting-an kebencian, sharing berita di grup whatsup dibalas dengan berita yang lain yang sering berisi kebohongan dan fitnah. Akhirnya, berakumulasi menjadi perpecahan dan permusuhan karena tidak ada proses klarifikasi dan konfirmasi.

Revolusi digital telah salah dimanfaatkan sehingga merusak tali dan tenun silaturahmi yang selama ini menjadi pondasi keluarga dan bangsa Indonesia. Komunikasi digital memang telah memupus sekat dan jarak, namun pada sisi lain telah merusak tatanan etika dan sopan santun. Komunikasi antara anak dan orangtua via gadget telah menghilangkan sisi penghormatan yang muda kepada yang tua.

Untuk itu, Lebaran harus dimaknai secara dalam untuk memulihkan lagi tradisi silaturahmi supaya mampu mengikis perseteruan dan permusuhan dan memulihkan tenggang rasa dan toleransi. Lebaran menciptakan momentum untuk memperkuat tenunan persaudaraan dan rasa kebangsaan kita, di mulai dari keluarga terdekat hingga pemerintahan, yang telah tercabik oleh kepentingan politik dan syahwat kekuasaan.

Itulah esensi dan kekuatan dari Lebaran untuk menyatukan umat dan mengembalikan fitrah manusia pada titik awal, agar meraih kebahagiaan yang sempurna. Selamat merayakan Lebaran, mohon maaf lahir dan batin!