Sabtu, 01 Juli 2017

Menemukan Mentor

Menemukan Mentor
AS Laksana  ;   Cerpenis; Lahir di Semarang dan tinggal di Jakarta
                                                        JAWA POS, 19 Juni 2017




                                                           
DI dalam cerita-cerita yang kita nikmati, baik melalui film maupun novel, sering ada figur yang sangat penting perannya bagi tokoh utama. Sosok penting itu ialah tokoh di dalam cerita yang menjalankan fungsi mentor. Ia hadir untuk mendewasakan tokoh utama, menjadikannya cukup tangguh untuk menghadapi hambatan terbesarnya nanti, membuatnya mampu mewujudkan mimpi atau membuat perubahan atau meraih apa yang ia inginkan.

Pendekar pada film kungfu menemukan mentor, mungkin dalam wujud orang tua sinting atau pendekar yang bertabiat angin-anginan, saat ia mengalami kesulitan untuk mengalahkan pendekar paling jahat yang harus ia berantas. Tanpa pertemuan dengan mentor semacam itu, ia tidak akan menjadi sosok baru yang mampu menundukkan lawan paling tangguh.

Pemain sepak bola, pemain bulu tangkis, dan para olahragawan memiliki pelatih, mentor pertama mereka, yang membekali calon-calon juara itu dengan kecakapan yang memadai untuk bertarung dalam setiap kompetisi, untuk mendapatkan tempat terbaik di lapangan yang mereka geluti. Selanjutnya, mungkin mereka akan menemukan mentor-mentor baru –yang memberi mereka inspirasi untuk menjadi yang terbaik atau yang mendorong mereka melangkah jauh melampaui zona nyaman.

Setiap mentor yang baik selalu akan mendorong Anda keluar dari zona nyaman, menikmati pengalaman baru, dan mendapatkan kecakapan baru untuk mengatasi situasi yang lebih rumit. Ia akan menempa Anda, seperti seorang pandai besi menempa besi-besi batangan menjadi kapak atau pedang atau sabit. Ia bisa menjadikan Anda lebih tajam dan siap menjalankan fungsi dalam cara yang mungkin tidak pernah Anda pikirkan saat Anda terus berkubang di zona nyaman Anda.

Aleksander Agung memiliki mentor bernama Aristoteles. Aristoteles memiliki mentor Plato. Plato memiliki mentor Sokrates. Oprah Winfrey menemukan mentor yang hingga sekarang selalu ia junjung dengan rasa hormat, ialah penyair Maya Angelou. ”Ia menemani dan membimbing saya menjalani masa-masa yang sangat penting dalam hidup,” katanya.

Mark Zuckerberg menjadikan Steve Jobs sebagai salah seorang mentornya. Ketika Steve meninggal pada 2011, Mark menulis di halaman Facebook-nya: ’’Steve, terima kasih sudah menjadi mentor dan sahabat saya. Terima kasih sudah menunjukkan bahwa apa yang kau bangun bisa mengubah dunia.’’

Hemingway memiliki banyak mentor yang membimbingnya menjadi penulis besar. Pulang dari Italia setelah menyelesaikan urusannya sebagai sopir ambulans pada Perang Dunia I, Hemingway kembali menjalankan pekerjaannya sebagai wartawan. Namun, itu bukan pekerjaan yang ia ingin jalani seumur hidup; ia kemudian memutuskan menjadi penulis. Yang ia pikirkan kali pertama adalah mencari penulis yang bisa ia jadikan mentor. Maka, ia pergi ke Chicago mengunjungi Sherwood Anderson, penulis paling populer di Amerika pada masa itu, dan menanyakan apa yang harus ia lakukan untuk menjadi penulis.

”Pergilah ke Paris,” kata Anderson. ’’Orang-orang paling menarik di dunia ini berkumpul di sana.’’

Ia berangkat ke Paris menuruti saran tersebut, berguru kepada ’’orang-orang paling menarik” yang ia temui di sana, dan selanjutnya mengubah diri dari seorang wartawan muda menjadi ”Papa” –salah satu penulis paling berpengaruh di abad ke-20.

Semasa SMA, saya terpukau pada semua cerpen dalam kumpulan cerita Orang-Orang Bloomington dan ingin sekali berjumpa dengan penulisnya (Budi Darma), membungkukkan badan serendah-rendahnya, dan jika perlu menangis sesenggukan agar diangkat sebagai muridnya. Hal serupa saya ingin lakukan terhadap Umar Kayam setelah saya membaca Sri Sumarah dan Bawuk.

Kadang-kadang saya melamun tengah malam dan membayangkan bercakap-cakap dengan Budi Darma, kadang-kadang membayangkan bercakap-cakap dengan Umar Kayam. Setiap kali menemukan tulisan mereka di koran atau majalah, saya sangat bahagia, seperti berjumpa dengan kakek pencerita yang saya tunggu-tunggu.

Saya tidak memiliki keberanian seperti Hemingway terhadap Anderson untuk menemui kedua penulis yang saya kagumi dan menanyakan apa yang harus saya lakukan agar bisa menjadi penulis yang bagus. Saya hanya pernah menanyakan sekali kepada Pramudya Ananta Toer ketika bertemu dengannya untuk melakukan wawancara dan ia menjawab, ”Ya, menulis saja.” Itu jawaban yang nantinya kerap saya dengar dari orang-orang lain, ’’Kalau mau jadi penulis, ya menulis saja.’’

Saya yakin saran itu, jika dituruti, akan menghasilkan penulis yang rajin menulis, dengan karya yang kurang lebih begitu-begitu saja, tetapi memiliki kepercayaan diri yang menjulang. Dan, para penulis yang biasa-biasa saja akan menularkan ajaran ”ya menulis saja” itu kepada orang-orang di bawahnya yang ingin menjadi penulis.

Sekarang, dengan beberapa helai rambut yang sudah berubah menjadi uban, saya merasakan dorongan tak terkendali untuk memiliki mentor. Saya ingin berguru kepada semua penulis yang saya kagumi karya-karyanya. Saya ingin berguru kepada Kafka, kepada Borges, Hemingway, Tolstoy, Anton Chekhov, Gabriel Garcia Marquez, Jaroslav Hasek, Dostoevsky, Charles Dickens, John Steinbeck. Namun, semua sudah meninggal. Orang-orang yang saya inginkan sebagai mentor semuanya sudah tidak lagi menjadi penduduk bumi.

Untung, mereka meninggalkan karya-karya bagus. Jika kangen kepada mereka, saya bisa membaca buku-buku mereka dan membayangkan sedang mendengar mereka mendongeng.