Minggu, 09 Juli 2017

Menyucikan Akal

Menyucikan Akal
Rakhmad Hidayatulloh Permana  ;   Tinggal di Subang;
Kegiatan sehari-harinya bermain dengan ikan-ikan air tawar
                                                     DETIKNEWS, 22 Juni 2017



                                                           
Ada sebuah kejadian lampau yang berlesatan dalam ingatan saya ketika memasuki hari-hari menjelang Lebaran. Malam itu, rumah saya kedatangan tamu. Dia tetangga di belakang rumah kami. Sebut saja namanya Pak Fuad. Pekerjaannya buruh pabrik plastik, sedangkan istrinya ibu rumah tangga biasa. Terkadang, istrinya sesekali menjajakan barang-barang kredit kepada para tetangga. Mereka memiliki dua orang anak yang masih kecil, yang masih perlu banyak biaya.

Saya melihatnya berada di luar pagar, dan mempersilakannya masuk. Ia datang dengan wajah agak memelas. Dia juga terlihat membawa sebuah tas cangklong yang entah isinya apa.
"Bapaknya ada, Mas?"
"Eh, Pak Fuad. Ada, Pak."

Saya pun memanggil Bapak saya yang saat itu sedang asyik menonton acara sinetron seri Ramadan.
"Pak, ada tamu."
"Siapa?"
"Pak Fuad."
"Oh, pasti mau pinjam uang," kata Bapak saya menebak begitu saja, tentu dengan nada lirih, karena memang sudah paham tabiat Pak Fuad. Bapak pun segera menemuinya.

"Ada perlu apa, Pak Fuad?"
"Jadi gini, Pak. Seminggu lagi Lebaran tiba, saya butuh uang untuk keperluan Lebaran keluarga saya. Saya ingin meminjam uang, sejuta saja. Dua minggu setelah Lebaran insya Allah akan langsung saya lunasi."
"Oh, kalau segitu tidak ada, Pak. Mungkin saya cuma bisa membantu lima ratus ribu saja."
"Satu juta tidak ada, Pak? Tenang, saya bawa jaminannya kok."

Pak Fuad mengeluarkan sebuah benda dari tas cangklongnya yang sedari tadi membuat saya penasaran. Saya kaget, benda itu adalah sebuah keramik berwarna hijau berbentuk papan.

"Ini adalah giok lafal qulhu geni. Bisa dipajang untuk menangkal arwah jahat dan pendatang rezeki. Ini barang langka dan mahal, Pak. Sudah ada kolektor yang menawarnya tapi tak saya berikan."

Bapak saya pun sedikit kaget ketika melihat benda itu. Ia tak menyangka bahwa Pak Fuad ternyata memiliki benda semacam ini. Benda yang jika dilihat dari fisiknya memang seperti bertuah dan misterius.

Namun, kesepakatan yang akhirnya terjadi, Bapak tetap meminjamkan uang lima ratus ribu tanpa perlu menerima benda itu sebagai jaminan. Bapak saya tak sampai hati menahan benda berharga milik Pak Fuad itu. Meskipun sebenarnya jelas, Bapak saya bukan seorang yang mempercayai benda bertuah. Begitu pun juga saya.

Saya tentu bisa sangat maklum dengan kondisi Pak Fuad. Memang, menjelang Lebaran, banyak sekali orang yang membutuhkan uang. Akhirnya, berutang pun kerap menjadi pilihan. Siapapun bisa terjebak pada kondisi seperti itu.

Tapi, sayangnya Pak Fuad memakai cara yang menurut saya ironis. Ia meminjam uang sembari menawarkan batu giok yang menurutnya bertuah. Padahal, pada saat itu smartphone sudah menjadi benda jamak di masyarakat. Di zaman yang memungkinkan orang untuk memesan tiket kereta dengan sentuhan jari, masih saja orang yang setia mengimani logika mistik.

Menurut Mochtar Lubis, dalam bukunya yang berjudul Manusia Indonesia (1977), percaya pada takhayul adalah ciri khas orang Indonesia. Menurutnya, mental Indonesia masih sulit untuk bisa lepas dari hal-hal yang berbau mistik dan ghaib. Inilah yang seringkali membuat orang Indonesia gampang diperalat dan diadu domba.

Dalam novelnya Harimau! Harimau! (1975) Mocthar Lubis menggambarkan ciri manusia Indonesia ini dengan nada penuh satir. Novel itu bercerita tentang petualangan para pencari kayu damar yang dihadang oleh harimau buas. Melalui teror harimau, para tokohnya melucuti karakter mereka masing-masing.

Salah satunya tampak dari tokoh antagonis bernama Wak Katok. Ia menyandang dua ciri manusia Indonesia menurut Mochtar Lubis: munafik dan suka takhayul. Wak Katok digambarkan dengan begitu sengit pada awal-awal cerita. Ia dianggap sebagai seorang dukun sakti dengan kemampuan luar biasa yang disegani oleh para anak muda. Namun, di akhir cerita, semuanya terbongkar. Wak Katok tak lebih dari pecundang dan pembual.

Sebenarnya, sampai hari ini kita masih bisa menemukan orang-orang yang menyukai takhayul dan ilmu ghaib, seperti Pak Fuad dan Wak Katok. Terbukti dari kasus penggandaan uang yang dilakukan oleh Dimas Kanjeng Taat Pribadi beberapa waktu lalu. Banyak orang—bahkan seorang intelektual—yang tertipu dengan kibul Dimas Kanjeng.

Di zaman sekarang, kualitas manusia Indonesia telah semakin runyam ketika hoax bisa begitu mudah dimamah oleh masyarakat kita. Mulai dari hoax yang mengatakan bahwa Jokowi adalah PKI sampai hoax terkini tentang Mahapatih Gajah Mada memiliki nama asli Gaj Ahmada dan seorang muslim. Barangkali, jika Mochtar Lubis masih hidup, mudah percaya pada hoax juga bisa dimasukkan ke daftar ciri-ciri manusia Indonesia.

Hoax dan takhayul bisa digolongkan sebagai beberapa jenis kuman pikiran yang sangat berbahaya bagi akal. Sebab, akal adalah salah satu instrumen penting yang menjadi penentu segala tindak-tanduk manusia. Maka, sungguh celaka ketika jika akal dicemari oleh berbagai macam kuman pikiran. Akal akan jadi barang rombeng yang tak berguna. Alhasil, akal tak bisa lagi menjaga manusia dari tindakan-tindakan menyimpang—jika tak boleh disebut tindakan bodoh.

Orang-orang yang pikirannya terpapar kuman-kuman pikiran niscaya tak akan bisa berpikir dengan alur logika yang lurus. Mereka, hanya akan berpikir dan bertindak dengan persepsi yang mereka imani. Para pakar, menyebut itu sebagai post-truth. Dan, tentu saja ini gawat. Bangsa ini akan selalu terjatuh pada masalah yang diciptakan kebodohan.

Maka, seharusnya Ramadan tidak hanya jadi waktu yang tepat untuk menyucikan hati, namun juga bisa jadi momen yang tepat pula untuk menyucikan akal. Menyucikannya dari kuman-kuman pikiran—seperti hoax dan logika ghaib, misalnya.

Menyucikan hati memang merupakan kewajiban bagi setiap insan manusia. Tapi, menelantarkan akal di lembah kebodohan adalah haram hukumnya. Kita tentu ingat bahwa ayat pertama yang diterima Sang Nabi adalah tentang pentingnya membaca. Itu adalah isyarat bahwa seseorang tak boleh jadi bodoh.

Orang yang hatinya kotor, penyakitnya adalah sifat culas. Hatinya dipenuhi kedengkian dan niat jahat. Namun, orang yang akalnya kotor bisa mengidap lebih banyak penyakit. Ia bisa menjadi culas, dungu dan mudah diadu domba. Barangkali derajatnya tak jauh dengan seekor domba aduan yang hanya bisa memamah rumput, mengembik dan adu tanduk.

Jika domba itu tak bisa bertarung lagi, maka ia hanya menunggu untuk disembelih.