Kamis, 13 Juli 2017

Prahara Timur Tengah (1)

Prahara Timur Tengah (1)
Azyumardi Azra  ;   Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI)
                                                      REPUBLIKA, 15 Juni 2017



                                                           
Prahara. Agaknya kosakata ini tidak berlebihan dilekatkan pada keadaan yang terjadi di Timur Tengah sejak awal Ramadhan 1438/2017. Sangat memprihatinkan. Ramadhan yang dimaksudkan untuk pengendalian hawa nafsu angkara murka pada satu pihak dan penguatan solidaritas sesama Muslim (ukhuwah Islamiyah) pada pihak lain, justru ditandai prahara.

Lihatlah, sejak awal Ramadhan (26/5/17) pemboman bunuh diri atas nama Islam terjadi di berbagai negara, khususnya di negara Muslim di Timur Tengah, Asia Selatan dan Afrika. The Daily Wire akhir pekan lalu (9/6/17) menurunkan tajuk berita: “Muslims Go on Killing Spree during Ramadan—950 Dead So Far, More than 1.000 Injured” (Orang-orang Islam Terus Melakukan Pembunuhan selama Ramadhan—950 Tewas Sejauh Ini, Lebih 1.000 Cidera).

Target serangan tidak hanya manusia hidup. Muslimin yang sudah jadi mayat pun tak luput dari aksi teror seperti terjadi di waktu pemakaman putra Wakil Ketua Parlemen Afghanistan (2/6/17). Bahkan almarhum Ayatullah Ruhullah Khomeini tidak dibiarkan ‘beristirahat’ tenang; makamnya juga menjadi sasaran aksi teror (7/6/17).

Menurut catatan The Daily Wire dalam waktu 30 hari terakhir, secara keseluruhan di berbagai penjuru dunia—termasuk di Asia dan Eropa, terjadi 193 serangan di 30 negara atas nama Islam. Dalam semua aksi teror itu, 1.786 orang tewas dan 1.828 cidera.

The Daily Wire juga menurunkan daftar kekerasan dan terorisme—yang terlalu panjang untuk dimuat di Resonansi ini. Daftar aksi kekerasan dan terorisme nampak bakal terus bertambah karena ketika The Daily Wire menurunkan daftar panjang itu (9/6/17), Ramadhan baru melewati setengahnya.

Sebagian besar aksi teror itu dilakukan atas nama ISIS. Entah benar entah tidak, pelaku aksi teror menyatakan tindakannya dilakukan atas perintah ISIS. Atau diklaim langsung oleh ISIS sebagai aksi yang diperintahkannya. Sebagian aksi kekerasan dilakukan orang atau kelompok yang kelihatan terlepas dari ISIS, tetapi terkait dengan al-Qaeda atau kelompok teroristik trans-nasional lain.

Aksi teror ini sering diklaim para pelakunya sebagai mengikuti jejak ‘Perang Badr’ yang pernah dilakukan Rasulullah (13 Maret 624M/17 Ramadhan 2H). Rasulullah menang dalam perang ini meski jumlah pejuang Muslim hanya 313 orang melawan 1.000 orang barisan kafir Quraysh.

Tetapi para pelaku aksi teror tidak mau tahu bahwa Perang Badr dilakukan Rasulullah untuk menghadapi kaum kafir Quraysh yang ingin menghancurkan Islam dan kaum Muslimin. Sementara ‘Perang Badr’ yang dilakukan orang atau kelompok teroristik terutama terhadap kaum Muslimin lain. Secara sporadis juga mereka lakukan di Eropa.

Di tengah kecamuk ‘killing spree’, prahara bertambah dengan munculnya ‘krisis Qatar’. Krisis bermula ketika Arab Saudi beserta sekutunya (Uni Arab Emirat, Bahrain, Mesir, Libya, Somalia, Yaman, Mauritania, Maladewa dan Komoro) memutus hubungan diplomatik dengan Qatar (5/6/2017). Pemutusan hubungan diplomatik ini disertai penghentian hubungan dagang dan perjalanan.

Seperti lazimnya, konflik di antara Saudi dan sekutunya dengan Qatar segera mengundang campur tangan pihak asing. Presiden AS, Donald Trump bukan berusaha meredakan krisis, sebaliknya dia menyatakan dukungan pada aksi Saudi dan kawan-kawannya. Padahal, Qatar memfasilitasi AS dengan pangkalan militernya di al-Udeid, terbesar di Timur Tengah.

Dalam pada itu, Qatar juga menemukan sekutu dan pelindungnya. Pertama adalah Turki. Parlemen Turki segera menyetujui pengiriman pasukan ke Qatar. Presiden Erdogan meski mengimbau agar krisis Qatar diselesaikan secara damai, dia segera mengirim pasukan sekitar 3.000 orang ke Qatar.

Sekutu dan pelindung Qatar lain adalah Iran, juga salah satu negara besar Timur Tengah yang sekaligus musuh bebuyutan Arab Saudi. Meski belum mengirim pasukannya, tetapi Iran telah melakukan operasi udara untuk pengiriman bahan makanan ke Qatar.

Jadi, jika penyelesaian krisis Qatar secara damai tidak tercapai, sementara ekskalasi konflik terus meningkat, bukan tidak mungkin terjadi perang dalam skala besar (full scale war) di Timur Tengah. Seandainya perang terjadi (na’udzu billah min dzalik), prahara kian berlipat ganda di kawasan Timur Tengah.

Oleh karena itu, pada tempatnya kita menghimbau para pemimpin negara-negara ini kembali kepada akal sehat dan nuraninya. Konflik dan krisis yang tidak terselesaikan damai hanya menambah kenestapaan dan penderitaan anak manusia.

Pada saat yang sama kita perlu mengapresiasi usaha Presiden Jokowi dengan berbicara langsung melalui telepon dengan Presiden Erdogan dan juga Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad al-Tsani (10/6/17). Sebelumnya Wakil Presiden Jusuf Kalla juga mengundang Dubes Arab Saudi dan Dubes Qatar di Jakarta.

Dengan inisiatif itu, Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla ingin mengetahui krisis Qatar lebih mendalam. Meski Presiden Jokowi menyatakan belum bisa menyimpulkan masalah apa persisnya, sepatutnya Indonesia lebih meningkatkan peran mediasinya untuk mencegah terjerumusnya Timur Tengah ke dalam keadaan lebih buruk.