Selasa, 04 Juli 2017

Puasa Politik Bersilat Lidah

Puasa Politik Bersilat Lidah
Asep Salahudin  ;   Wakil Rektor Bidang Akademik IAILM  Tasikmalaya;
Ketua Lakpesdam  PWNU Jawa Barat
                                                         KOMPAS, 23 Juni 2017



                                                           
Tentu saja lidah itu tidak bisa silat dan juga tidak bertulang. Ungkapan itu lebih merujuk kepada makna seseorang yang pandai berdusta, terampil memutarbalikkan fakta.

Orang yang memiliki banyak jurus pembicaraan untuk mengelabui   seseorang   dan atau banyak orang, tetapi seluruh jurus itu bermuara pada kebohongan. Sekali berdusta, maka selamanya dia akan menutupinya dan akhirnya dusta yang dilipatgandakan dengan lihai itu akan dianggap kebenaran. Dusta hadir sebagai asupan fanatisme sekaligus pencitraan diri. Setelah menjadi "kebenaran" dan diviralkan, maka kebenaran otentik pun  walaupun ditopang data kokoh akan mengalami kesulitan meruntuhkan terpaan "kebenaran" palsu. Apalagi kalau "kebenaran" itu terus- dipromosikan secara gencar.

Pada gilirannya orang dengan senang hati menerimanya bahkan balik menganggap kebenaran asli justru sebagai anomali. Yang benar-benar kiai tidak ditaati, malah yang abal-abal diikuti. Di titik inilah saya melihat mesin hoaks bekerja. Hoaks bekerja menghindar dari alur kebenaran (verite), dari "ada", "kejadian",  dan hidup baik (vie bonne) (Alain Badiou). Hoaks sebagai lambang absennya kesanggupan menarasikan dirinya (soi) dan yang lian (l'autrui) dengan penuh tanggung jawab (Paul Ricoeur).

Gilanya, di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya melek aksara; soal politik, sosial bahkan agama dijangkarkan di atas landasan hoaks.  Mereka merasa tak perlu melakukan konfirmasi karena meyakini hoaks sebagai "kebenaran". Dalam survei Kompas (15/5/2017), justru peringkat pertama berita bohong yang sering diterima adalah sosial-politik (pilkada dan pemerintah), yakni 91,8 persen, urutan kedua suku, agama, ras, dan antargolongan (88,6 persen), setelah itu kesehatan (41,2 persen), makanan dan minuman (32,6 persen), penipuan keuangan (24,5 persen), ilmu pengetahuan dan teknologi (23,7 persen), berita duka (18,8 persen), candaan (17,6 persen), bencana alam (10,3 persen), dan lalu lintas (4,0 persen).

Lebih miris lagi anak-anak yang belum paham apa-apa dipaksa orangtuanya meneriakkan cara beragama yang membabi buta dan  kehilangan akal sehat. Dalam sebuah pawai obor menyambut bulan suci Ramadhan, bagaimana  cairan radikalisme disuntikkan ke kepala anak-anak dan mereka pun penuh semangat meneriakkan kata-kata yang mencerminkan kebencian kepada mereka yang berlainan keyakinan, menyuarakan kekerasan simbolik, "Bunuh-bunuh...."

Saya tidak bisa membayangkan, kalau sejak dini puritanisme seperti itu yang menjadi makanannya, kelak saat mereka dewasa keberagamaan yang menjadi rutenya kemungkinan besar adalah  wajah-wajah beringas yang menampik kehadiran mereka yang berbeda. Agama tak lebih hanya saluran pemuas nafsu agresivitas metafisisnya yang sejak awal dibungkus selubung  suci ayat-ayat Tuhan yang ditafsirkan serampangan: jihad fi sabilillah. Tuhan  diproyeksikan sebagai sosok penghukum, balas dendam,  dan pembenaran terorisme.

Puasa kata-kata

Ramadhan sesungguhnya merupakan bulan refleksi atas segenap tindakan. Dalam kajian tasawuf, puasa tidak berhenti sebatas perut dan menahan hajat biologis, tetapi juga memuasakan raga, jiwa, dan termasuk kata-kata. Dalam konteks kebangsaan  hal ini sangat relevan.  Sudah terlampau  lama kita dipaksa mengisap polusi kata-kata, dikepung  pengeras suara yang berisi tak lebih hanya pendakuan kebenaran, pekik khotbah atas nama membela iman, padahal isinya hanya uraian penebalan rasa permusuhan.

Di media sosial kebencian dirayakan sedemikian rupa, stigma kafir dan munafik dilemparkan sembarangan kepada yang berbeda pilihan politik. Puasa sudah saatnya juga kita maknai sebagai jalan terjaga dalam kata.

Siti Maryam mengajarkan puasa berbicara, dan membiarkan Nabi Isa berbicara dengan bahasa kelembutannya; Nabi Muhammad hanya memberikan opsi kepada kita apabila tidak bisa berkata-kata yang baik lebih bagus diam.  Sidharta Gautama tafakur di bawah pohon bodhi dan berhenti berbicara.

Ketika Konfusius (1551-479 SM), tokoh China terbesar ditanya apakah yang pertama harus dilakukan elite  negara, ia menjawab, "Luruskan kata-kata!" Orang yang bertanya tadi heran, "Mengapa, tuan guru?" Konfisius menjawab, "Jika kata-kata tidak lurus, apa yang akan dikatakan bukanlah apa yang dimaksudkan; jika apa yang dikatakan bukan apa yang dimaksudkan apa yang seharusnya diperbuat tetaplah tidak diperbuat."

Kekerasan simbolik

Sebuah riwayat mencekam patut kita renungkan di tengah puasa yang sering lupa menanggalkan dusta, seperti dikutip Al-Ghajali. Zaman Muhammad SAW tersebutlah  dua wanita yang  hampir pingsan karena menahan lapar berpuasa. Diutuslah seseorang kepada Nabi   untuk menanyakan apakah mereka boleh membatalkan puasanya. Sebagai jawabannya beliau mengirimkan sebuah mangkuk dan berkata, "Muntahkan ke dalam mangkuk ini apa yang telah kamu makan". Semua yang hadir terkesima  melihat dua wanita itu  memuntahkan darah segar dan daging lunak memenuhi mangkuk itu.

Kata Sang Nabi,  "Dua perempuan itu telah merasakan apa yang Tuhan halalkan  bagi mereka dan telah membatalkan puasa mereka dengan melakukan yang Tuhan haramkan. Mereka telah duduk bersama dan bergunjing. Darah dan daging segar yang mereka muntahkan adalah darah dan daging segar orang yang telah mereka gunjingkan". 

Minimal dengan kata-kata yang terjaga sebagai pesan substansial laku puasa,  kita telah menurunkan satu nilai kebaikan universal dari agama. Betul setiap agama itu baik, tetapi kebaikan tidak ada faedahnya manakala tidak pernah diturunkan sebagai tindakan oleh para pemeluknya. Agama yang baik adalah agama yang menginjeksikan para pemeluknya  bisa saling menghormati satu sama lain.

Agama yang benar hakikatnya tidak pernah bertentangan dengan etika politik dan tujuan bernegara, yakni membangun hidup  yang utama secara bersama-sama, mewujudkan ketertiban, menciptakan birokrasi berkeadilan, dan mengakui pluralisme sebagai takdir sosial.

Agama yang memperteguh motivasi  karena di dalamnya,  sebagaimana ditelaah Ricoeur (Haryatmoko, 2010), pertama, agama memberi identitas karena akta pendirian  suatu kelompok diaktualisasikan  kembali dengan representasi diri; kedua, agama menumbuhkan keyakinan bahwa orang berada dalam kontak  dengan makna terdalam hidupnya; ketiga, acuan ke tujuan terakhir  memberi pembenaran dan mendasari sikap kritis atas tatanan  yang ditolaknya dan bahaya pada semua agama adalah ketika direduksi hanya menjadi ideologi.

Dengan kata lain, puasa  dan  agama merupakan ritus personal sebagai peneguhan bahwa puasa yang sahih dan sikap keagamaan yang betul tak pernah menoleransi baik  kekerasan fisik ataupun simbolik. Puasa sebagai medan perayaan kebebasan sekaligus jendela pembebasan dari perbudakan hawa nafsu, dominasi dan muslihat kata-kata. 

Ketika kita berpuasa, tetapi masih menganggap ada manusia yang tak pernah salah atau selalu salah, menghindar dari hukum dan tak pernah bertanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri, tak henti menyebarkan teror dan hoaks, maka puasa  seperti itu  tak lebih hanya berbuahkan darah dan daging segar. Tak lebih.