Rabu, 05 Juli 2017

Zaman Baru

Zaman Baru
Trias Kuncahyono  ;   Wartawan Senior Kompas
                                                         KOMPAS, 24 Juni 2017



                                                           
Keputusan Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud (81), Rabu (21/6), mengangkat anak laki-lakinya, Mohammed bin Salman (31), sebagai putra mahkota menjadi pertanda bagaimana Arab Saudi akan memasuki era baru, zaman baru. Sebuah zaman yang membutuhkan tidak hanya partisipasi, keterlibatan baik dalam pemikiran maupun dalam tindakan, tetapi juga ketegasan dari generasi muda.

Ke depan-dilandasi berbagai pertimbangan, termasuk usaha Arab Saudi untuk tidak bergantung pada minyak bumi, perkembangan zaman, niatnya untuk tetap mempertahankan perannya sebagai aktor utama politik regional, dan juga persaingannya dengan Iran, antara lain-Arab Saudi membutuhkan seorang pemimpin muda yang memiliki visi jauh ke depan, memiliki rasa nasionalisme tinggi dan kuat, serta jaringan internasional.

Mohammed bin Salman memenuhi tuntutan tersebut dibandingkan dengan sepupunya, Mohammed bin Nayef (57), yang posisinya sebagai putra mahkota tergusur. Mohammed bin Nayef adalah anak kakak Raja Salman, Nayef bin Abdulaziz, yang meninggal pada tahun 2012 sebagai putra mahkota. Dalam beberapa hal, Mohammed bin Salman memiliki pemikiran dan tindakan yang lebih berani dibandingkan Mohammed bin Nayef. Misalnya, masalah Qatar. Mohammed bin Salman-lah yang menjadi pendorong utama (untuk tidak mengatakan sebagai arsitek) pemutusan hubungan diplomatik, sementara Mohammed bin Nayef menyarankan penyelesaian masalah lewat jalan diplomatik, perundingan.

Mohammed bin Salman adalah arsitek program ekonomi baru Arab Saudi, yakni Visi 2030. Kebijakan ekonomi baru itu diambil sebagai dampak dari merosotnya harga minyak. Akibat merosotnya harga minyak, Arab Saudi terpaksa melakukan sejumlah langkah, termasuk pengetatan ikat pinggang, pemotongan gaji pegawai negeri, serta pengurangan subsidi air dan energi.

Sementara itu, Visi 2030, menurut Direktur Gulf Research Centre (di Riyadh) John Sfakianakis, adalah sebuah kebijakan ekonomi yang tidak lagi menggantungkan sepenuhnya pada minyak bumi, termasuk swastanisasi sebagian perusahaan minyak milik negara Aramco (Reuters, 21/6).

Dengan demikian, pengangkatan Mohammed bin Salman sebagai putra mahkota, menggusur Mohammed bin Nayef yang memiliki hubungan dekat dengan Washington karena sikap tegasnya terhadap kelompok militan, akan menjamin keberlangsungan program reformasi ekonomi yang sangat dibutuhkan oleh Arab Saudi untuk menghadapi masa depan. "Keuntungan memiliki pemimpin muda adalah.... perencanaan tidak hanya untuk 10 tahun ke depan, tetapi 40 tahun ke depan dan menjamin adanya kesinambungan institusional," kata Mohammad al-Yahya dari Atlantic Council, sebuah lembaga pemikir di Washington (The Wall Street Journal, 22 Juni 2017).

Dalam konteks persaingan kekuatan kawasan, pengangkatan Mohammed bin Salman sebagai putra mahkota adalah sebagai usaha untuk meningkatkan performance, mungkin lebih tepatmeningkatkan "sosok dan penampilan" Arab Saudi yang ingin tetap menjadi negara penentu dinamika politik di Timur Tengah. Sosok dan penampilan Arab Saudi perlu lebih tegas, agresif, tidak ragu-ragu dalam konteks persaingan dengan Iran yang dianggap sebagai pesaing utama sekaligus lawannya. Mohammed bin Salman disebut sebagai arsitek perang di Yaman dan pendorong kebijakan agresif terhadap Iran akhir-akhir ini.

Berangkat dari alasan-alasan di atas, maka keputusan pengangkatan Mohammed bin Salman sebagai putra mahkota adalah sebuah pilihan yang tidak bisa dihindarkan demi keberlangsungan Kerajaan Arab Saudi dan kesiapan dalam menyongsong perubahan, tuntutan zaman, dan persaingan regional.