Kamis, 25 Mei 2017

Saatnya Kita Ikut Bicara untuk Keselamatan Bangsa

Saatnya Kita Ikut Bicara untuk Keselamatan Bangsa
Imam B Prasodjo  ;  Sosiolog Universitas Indonesia
                                                      DETIKNEWS, 23 Mei 2017



                                                           
Selama masa Pilkada DKI, ada sebagian dari kita (termasuk saya) mencoba menahan diri tak banyak bicara di media karena apa pun yang kita katakan, terasa lebih banyak membawa "mudharat" daripada "manfaat" bagi persaudaraan kita sesama warga bangsa. Namun, melihat kondisi akhir-akhir ini yang semakin mengkhawatirkan, kini mungkin saat yang tepat, kita harus bicara bersama-sama, mencegah potensi konflik horizontal yang kelihatannya dapat setiap saat terjadi.

Pengalaman kita pascareformasi, khususnya 1999 hingga 2003, sungguh harus menjadi pelajaran kita bersama. Saya masih terbayang dan ikut merasakan kepedihan orang-orang tak berdosa, para korban konflik di Ambon, Maluku Utara, Sulawesi Tengah dan Kalimantan, yang saat itu harus hidup di tenda-tenda pengungsian. Kebanyakan dari mereka adalah anak-anak, kaum perempuan dan para warga lanjut usia. Kehidupan mereka yang sebelumnya tenang, penuh kedamaian, tiba-tiba mencekam penuh was-was, sehingga terpaksa mereka harus pergi menyelamatkan diri, menjadi mengungsi di mana pun arah kaki berlari.

Sungguh pertikaian terbuka yang sarat dengan sentimen kesukuan, ras dan agama telah memporak-porandakan kedamaian kehidupan kita. Amarah dan dendam terasa begitu bergemuruh membakar nafsu untuk saling melukai dan bahkan saling membunuh karena harga diri kita sebagai manusia merasa disinggung dan direndahkan. Suara keras, lantang, saling melecehkan dan merendahkan yang kita saling lontarkan, tanpa terasa telah menusuk hati kita masing masing. Kita pun lupa, kita sesama saudara warga bangsa yang pasti akan terus hidup berdampingan. Konflik besar terbuka 15-18 tahun lalu, yang sesungguhnya belum lama mereda, saat ini seperti terlupakan.

Dengan melihat kejadian akhir-akhir ini, banyak orang bertanya, akankah kita ulangi pertikaian itu? Akankah bangsa ini harus mengalami derita yang jauh lebih tragis karena kita akan saling berbunuhan lebih dahsyat hingga menghancurkan masa depan kehidupan anak-anak kita? Akankah kita menjadi bangsa pengungsi yang harus pergi dari negeri sendiri karena di negeri sendiri rasa aman tak ada lagi? Ke manakah nanti kita harus melarikan diri, Malaysia, Singapura, Thailand, Filipina, New Zealand ataukah Australia?

Saat ini, suara-suara keras saling melukai, terdengar kembali, bahkan terasa berulang-ulang diviralkan dengan bantuan teknologi komunikasi. Apa yang harus kita lakukan? Setidaknya untuk sementara, saat ini perlu kita tunda mencari siapa yang memulai kekalutan ini dan siapa yang bersalah. Bila ini dilakukan juga, pasti perdebatan berkepanjangan akan terjadi, masing-masing pihak mencari berbagai alasan untuk membela diri, tak mau disalahkan, dan mau menang sendiri.

Mungkin, yang penting dilakukan saat ini, masing-masing kita harus berusaha keras instrospeksi dan menahan diri untuk tidak menambah situasi menjadi lebih runyam. Itu saja dulu dilakukan sambil berharap nasib baik masih ada pada negeri ini. Tentu kita tak ingin konflik horizontal seperti dulu terjadi di Maluku, Maluku Utara, Sulawesi Tengah, Kalimantan terulang lagi. Dan, lebih tidak kita inginkan bila di negeri kita terjadi kehancuran seperti yang terjadi di Irak dan Suriah hari ini. Bukankah kita dapat melihat dengan kasat mata negeri itu hancur sehancur-hancurnya, dan bahkan bangsa-bangsa itu terancam punah?

Saat kita bicara seperti ini, memang masih saja ada yang bilang, "Kita bukan Suriah. Hal seperti itu tak mungkin terjadi di negeri kita." Tapi ingat, beberapa tahun lalu, banyak warga Suriah juga tak pernah terbayang negara mereka akan seperti sekarang ini. Siapa yang terbayang bangsa Irak dan Suriah menjadi bangsa pengungsi yang "mengemis" untuk dikasihani? Mereka hancur seperti saat itu karena mereka tak mampu menahan diri, gagal bersama-sama mencegah kehancuran bersama.

Sebelum kejadian buruk seperti itu terjadi, harus ada pihak di negeri kita yang dengan sungguh-sungguh berupaya mencegahnya. Perlu banyak orang mengingatkan bahwa kehancuran bangsa bisa saja terjadi bila kita tak berhati-hati. Perlu diingatkan, tak ada satu pun pemenang dalam pertikaian. Apalagi bila telah ratusan atau bahkan ribuan korban berjatuhan. Semua akan menanggung rasa pilu dan kepedihan.

Entah mengapa pada saat ini, setiap kali saya menyaksikan ratusan atau apalagi ribuan orang berkerumun meneriakkan amarah, jantung jadi berdebar-debar. Apalagi ketika kerumunan itu dipandu oleh orang yang mahir mengolah kata-kata keras, bersuara lantang memekakkan telinga, membakar emosi. Saya selalu terbayang kerusuhan yang memakan korban, sewaktu-waktu akan pecah.

Banyak dari kita tentu memahami psikologi massa (kerumunan). Dari beragam jenis kerumunan, ada satu jenis kerumunan yang sangat berpotensi untuk meledak menjadi kerusuhan. Kerumunan itu adalah kerumunan marah yang teragitasi atau diagitasi. Dalam kerumunan semacam ini, tiap orang yang ikut berkumpul sangat mudah kehilangan kontrol diri. Ibaratnya, satu orang dalam kerumunan menyambit batu, yang lain dengan mudah akan ikut-ikutan melakukan hal yang sama. Satu orang menerobos pagar berduri, ratusan orang tanpa banyak pikir akan mengikutinya, tanpa peduli terhadap keselamatan diri. Satu orang memberi komando "serbu", yang lain dengan spontan akan segera maju menyerang melakukan apa saja dan kepada siapa saja, tak pandang bulu.

Itulah kerentanan tiap kerumunan marah. Inilah psikologi massa yang memang bercirikan sifat "primitif", ibarat hewan yang tak berakal membabi buta, menyerang siapa saja yang dipersepsikan sebagai musuhnya. Karena itu, manakala sebuah bangsa terlalu banyak dipenuhi kerumunan marah (angry crowd) di jalan-jalan di setiap kota, kita pun hanya dapat berdoa semoga Tuhan masih sayang pada bangsa ini.

Tak ada orang yang bisa menjamin kerumunan marah itu akan tetap bisa berdiam, mampu mengontrol diri. Siapa yang bisa menahan emosi pada kerumunan yang emosinya dipupuk, dibangkitkan kemarahannya setiap hari? Karena itu, bila kita ingin mencegah kehancuran negeri ini, kurangi kerumunan marah, cegah jangan terlalu banyak aksi jalanan yang meluapkan emosi, dan segera transformasikan ketidak-puasan dan kemarahan ke dalam dialog dan diskusi dingin yang lebih berorientasi pada menyelesaikan masalah daripada melampiaskan amarah.

Kita perlu coba bangun kembali cara-cara yang melegakan hati, membangun hubungan kembali untuk saling sayang menyayangi. Rasul SAW bersabda:

"Kalian tidak akan masuk surga kecuali beriman. (Tapi kalian) tidak termasuk beriman kecuali saling sayang menyayangi. Inginkah aku tunjukkan pada kalian sesuatu yang bila kalian kerjakan dapat mempererat kasih sayang? Sebarkan salam (kedamaian) di antara kalian." (Hr. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, al-Tirmidzi, Ibn Majah).

Aku Tua Maka Aku Pintar

Aku Tua Maka Aku Pintar
Iqbal Aji Daryono  ;  Praktisi Media Sosial, dan suka menulis di mana saja;
Kini ia tinggal sementara di Perth, Australia, dan bekerja sebagai buruh transportasi
                                                      DETIKNEWS, 23 Mei 2017



                                                           
"Pak, Bapak tahu enggak kalau ayam itu sebenarnya dinosaurus?"

Hoahaha! Saya langsung ngakak mendengar candaan Hayun. Anak saya itu baru masuk kelas satu waktu bertanya demikian, dan saya menduga dia habis dapat cerita aneh-aneh dari temannya.

Namun tak dinyana, Hayun langsung protes keras mendengar tawa mengejek yang keluar dari mulut saya. "Beneraaaaan! Bapak pasti nggak tahuuu!" dia pun mulai emosi.

Segera saya tenangkan dia. Saya elus-elus kepalanya dan bicara pelan, lebih kurang, "Sudaaah, jangan marah. Mungkin kamu pingin Bapak mengalah. Tapi kalau memang yang kamu katakan itu salah, ya Bapak akan bilang itu salah. Kan Bapak pernah sekolah lama juga, sudah belajar banyak juga...."

Hayun tetap tidak terima. Dia ngambek. Sementara, saya tetap kokoh pada pendirian saya. Bagaimana pun saya hidup 29 tahun lebih lama ketimbang dia. Saya pernah belajar Biologi dengan sangat serius, karena guru Biologi saya semasa SMP terkenal menyeramkan. Belum lagi waktu kecil, banyak obrolan ilmu alam saya dapatkan pula dari mendiang ayah saya yang juga guru Biologi. Saya lumayan percaya diri untuk soal ini.

Hingga kemudian iseng-iseng saya buka Google. Saya ketik deretan kata "chicken is dinosaurs". Lalu tombol search saya klik.

Dan... astaga! Yang terpampang di hadapan saya adalah deretan artikel serius dengan judul semacam "Chicken are Closely Related to Dinosaurs", "How Dinosaurs Shrank and Became Birds", dan sebagainya. Saya baca sekilas, dan isinya memang menyatakan bahwa menurut riset-riset palaeoantropologi, ayam merupakan cicit-evolusi dari dinosaurus. Dengan kata lain, benar kata Hayun, bahwa pada dasarnya ayam adalah dinosaurus!

Panik, saya pun segera meminta maaf kepada Hayun. Khawatir sekali rasanya, jangan-jangan anak saya mengalami "keputusasaan intelektual", gara-gara arogansi orangtuanya yang sok tahu.

Begitu dia mendengar permintaan maaf saya, sambil merengut dia kasihlah gong itu. "Ya kaaan? Grown up nggak selalu lebih tahu daripada kids kaaan?"

Jleb banget saya rasakan kalimat itu. Sebelumnya saya ngotot lebih benar karena merasa, ehm, sudah cukup kenyang makan asam garam kehidupan. Tapi kemudian anak saya memukul telak dengan kalimat bahwa orang dewasa tidak selalu lebih tahu ketimbang anak-anak. Hahaha. Sialan.

Begitulah. Ini sebenarnya pengetahuan klasik saja, bahwa lamanya seseorang dalam menjalani kehidupan tidak otomatis berbanding lurus dengan kepintarannya. Secara rasional kita semua sangat paham soal itu. Namun di bawah sadar, acapkali muncul rasa gengsi. Gengsi untuk mengakui bahwa usia kita yang berjalan sebegini jauh ternyata tidak mampu menjadi jaminan atas jauhnya pula perjalanan dalam kekayaan pengetahuan.

Mungkin contoh cerita yang saya sampaikan terlalu ekstrem, yakni antara bapak dan anaknya sendiri. Agaknya itu pun saya pilih lebih karena saya gengsi mengakui bahwa teman-teman saya, dengan usia mereka yang lebih muda dari saya, banyak sekali yang jauh lebih pintar dari saya. Perasaan tidak rela semacam itu selalu muncul. Saya lebih tua, kok saya bego?

Padahal, andai hanya dengan menjadi tua saja manusia langsung pintar dengan sendirinya, maka sudah pasti intelektual paling moncer di Indonesia bukanlah Soedjatmoko atau Habibie, melainkan Mbah Gotho dari Klaten. Beliau hidup sampai umur 140 tahun, lahir pada masa penutupan Tanam Paksa, dan meninggal baru beberapa waktu lalu.

Sayangnya, usia tidak pernah menjadi jaminan keluasan pengetahuan. Ada banyak sekali orang yang umurnya panjang tapi tidak punya kesempatan untuk mempelajari banyak hal. Di sisi lain, tidak sedikit orang yang punya kesempatan untuk belajar banyak, menemukan peluang yang banyak, tapi lebih suka bermalas-malasan. Kalau yang itu saya sendiri cocok jadi contohnya.

Untuk itulah, karena menjadi tua tidak menjamin apa-apa, seharusnya kita menyingkirkan faktor usia dalam aktivitas-aktivitas dialektika yang tak henti kita jalankan di zaman kejayaan media sosial ini. Begitu, bukan?

Hehehe, di antara Anda pasti ada yang langsung paham ke mana arah obrolan saya. Anda benar sekali. Jujur saja saya sangat terganggu dengan keriuhan hari-hari ini antara dua orang selebritas dunia maya. Yang satu masih SMA, yang lain sedang studi master di luar negeri. Saya tidak sepenuhnya setuju pandangan Si Adek SMA, meski jauh lebih tidak sejalan dengan cara Mas Master dalam memandang objek dan konteks perdebatan.

Meski demikian, yang paling mencuri perhatian saya justru gaya tulisan Mas Master yang terasa sekali mengunggulkan senioritasnya. Dalam tulisan pendeknya, tampak bejibun ungkapan-ungkapan seperti: "Adek belum tahu? Makanya Kakak kasih tahu."; "Buka mata dan jadilah orang dewasa dek"; "Makanya banyak baca dek, mumpung masih muda."; "Adek kayaknya beneran nggak tahu ya...."

Buat saya, itu menggelikan. Sudah jelas ada masalah yang dibahas. Ada data yang diadu. Ada alur logika yang diperlawankan. Kenapa kita tidak bisa berkonsentrasi pada sisi-sisi itu, sehingga bisa terbangun suasana diskusi yang asyik, yang menantang kecerdasan, dan bisa sama-sama dijadikan ajang belajar oleh siapa pun yang menyimaknya?

Lebih jauh lagi, ungkapan-ungkapan bernuansa seniorisme semacam itu sesungguhnya bentuk lain dari argumentum ad hominem. Memang benar, bahwa semua celetukan itu bukan bagian dari konstruksi yang membangun argumen, bukan pula peluru untuk meruntuhkan pendapat lawan. Namun dengan tonjokan-tonjokan bernada ganjil demikian, seolah si penulis sedang mengatakan, "Halah kamu tahu apa sih, anak kecil belajarnya baru seupil. Aku lebih tua, jadi aku sudah pasti lebih ngerti."

Persis di titik itulah yang terjadi tak lebih dari serangan personal, usaha mengalahkan (atau meneror?) lawan debat dengan cara menembak sisi yang tak ada kaitannya sama sekali dengan topik diskusi.

Sebenarnya, ada banyak kasus lain semacam ini yang kerap kita jumpai. Ungkapan seperti "Ngaji dulu sonooo!"; "Sekolah yang beneeer!"; sesungguhnya tak lebih dari serangan personal, tradisi yang sangat buruk dalam bertukar pendapat.

Saat saya menulis ini pun, aduh, saya mati-matian menahan diri untuk tidak menyerang sisi pendidikan Si Mas Master. Misalnya dengan mengatakan "Percuma sekolah tinggi sampai ke luar negeri" atau yang begitu-begitu. Bisa-bisa, ucapan demikian pun jadi bentuk lain dari ad hominem.

Yang saya kritik adalah gaya dia dalam glorifikasi senioritas. Saya tidak perlu menyerang sisi personalnya, yaitu pendidikan dia. Toh, pendidikan formal pun kadangkala bukan jaminan apa-apa.

Republik Indonesia Bentuk Final

Republik Indonesia Bentuk Final
Hasanudin Abdurakhman  ;  Cendekiawan; Penulis;
Kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
                                                      DETIKNEWS, 22 Mei 2017



                                                           
Berulang kali kita mendengar penyataan itu dari tokoh-tokoh Islam, baik dari NU dan Muhammadiyah, maupun MUI. Juga dari berbagai ormas lain. Apa maknanya? Maknanya adalah, bentuk, dasar, maupun konstitusi negara ini tidak akan berubah. Lebih khususnya, negara ini tidak akan menjadi negara Islam. Berbagai elemen utama umat Islam menyatakan hal itu, artinya mereka tidak menginginkan negara dalam bentuk lain.

Mengapa pernyataan ini perlu diulang-ulang? Itu artinya ada yang tidak yakin soal itu. Dulu di zaman Soeharto pernyataan ini sering dikeluarkan. Sebagian orang tentu mencurigai ketulusannya. Boleh jadi pernyataan itu keluar akibat tekanan. Kini kita sudah jauh lebih bebas. Tapi, kenapa pernyataan itu masih tetap perlu?

Sepertinya para pemimpin tadi menyadari bahwa sebenarnya suara umat Islam tidak 100% bulat soal ini. Ada sekelompok kecil orang yang masih menolak Pancasila sebagai dasar negara. Ada juga yang menolak negara dalam bentuk republik seperti sekarang. Bagi mereka seharusnya negara ini berbentuk negara Islam, memakai Quran sebagai dasar negara, dan hukum Islam sebagai hukum negara. Jadi, jika bentuknya seperti ini, maka negara ini harus diubah.

Ada yang lebih lembut. Bagi mereka, bentuk negara serta fondasi pendukungnya boleh saja tetap seperti ini. Tapi, negara ini harus memberi sedikit keistimewaan kepada umat Islam. Alasan mereka, umat Islam ini mayoritas. Lagi pula, dasar negara dan konstitusi pada dasarnya memang memberi ruang istimewa itu melalui Piagam Jakarta.

Bagaimana wujud keistimewaan itu? Tuntutannya beragam. Ada yang menuntut diterapkannya nilai-nilai Islam sebagai dasar berbagai regulasi yang menata kehidupan. Ada pula yang menginginkan aturan-aturan khusus yang ditujukan untuk umat Islam, atau memberi hak yang lebih bagi umat Islam. Bentuk kongretnya berupa peraturan-peraturan seperti yang kita kenal dengan istilah Perda Syariah. Singkat kata, selalu ada kelompok-kelompok yang ingin mengubah format negara ini, secara mencolok maupun tersamar.

Maka, penegasan tadi bagi saya sangat penting. Pancasila maupun UUD kita tidak menyebut Islam maupun muslim. Juga tidak memakai istilah minoritas dan mayoritas. Setiap warga negara mendapat perlakuan sama, dipandang sebagai manusia yang tidak digolongkan atas dasar agama maupun suku. Kita hanya punya satu identitas, yaitu warga negara Indonesia. Itu sudah final.

Orang-orang yang masih penasaran dengan status mayoritasnya harus kembali membuka buku sejarah. Piagam Jakarta memang pernah hampir menjadi bagian dari konstitusi kita. Tapi kemudian isinya diubah. Lalu perubahan itu disetujui oleh pemimpin-pemimpin Islam sendiri. Kemeudian usaha untuk kembali konstitusi yang memberi ruang istimewa kepada umat Islam kembali dilakukan melalui konstituante. Tapi usaha itu mentok, lalu melalui sebuah dekrit di tahun 1959, kita kembali ke UUD 1945.

Berbagai usaha itu mungkin dinilai tidak tuntas penyelesaiannya, karena melalui proses yang bisa dinilai tidak demokratis. Maka usaha ini kemudian dicoba lagi. Pada amandemen konstitusi tahun 1999 wacana untuk kembali memberlakukan Piagam Jakarta kembali dibuka. Lagi-lagi usaha itu mental. Bahkan partai-partai Islam tidak menghendakinya.

Artinya? Ya sudah final. Jangan diutak-atik lagi. Kalau dibahas lagi, hasilnya akan tetap sama. Negara ini akan tetap dalam format yang sekarang. Pernyataan para ulama tadi adalah pengingat penting. Pengingat ini sepertinya memang harus terus disampaikan.
Ada sejumlah orang yang sepertinya lupa, atau tidak peduli. Mereka hanya mau tahu soal keinginan mereka. Mereka terus meneriakkan keinginan itu dalam ruang publik, seakan itu kebenaran yang harus diterima pihak lain. Dalam konteks ini, peryataan para pemimpin umat tadi penting. Mungkin mereka tak bisa mengubah orang-orang keras kepala itu. Tapi, setidaknya pernyataan itu memberi ketegasan kepada orang-orang yang dibuat bingung oleh orang-orang keras kepala itu.

Sekali lagi, inilah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam bentuk yang sekarang, dan tidak akan berubah.

Jihad Kebangsaan Guru

Jihad Kebangsaan Guru
Anggi Afriansyah ;   Peneliti Sosiologi Pendidikan di Puslit Kependudukan LIPI
                                                          KOMPAS, 24 Mei 2017




                                                           
PARA guru merupakan para pejuang sejati. Mereka senantiasa berjuang dengan sungguh-sungguh untuk memberikan pencerdasan dan pencerahan bagi anak bangsa. Bekerja tanpa sorot kamera, tetapi tetap setia mengawal anak-anak Ibu Pertiwi yang haus ilmu. Mendidik mereka dengan penuh kesadaran dan kesabaran. Tak sembarang orang mampu menjadi guru. Hanya para pejuang tangguhlah yang mampu bertahan. Pendidikan merupakan upaya untuk membebaskan dan memerdekakan. Pada Kongres Pemufakatan Persatuan Pergerakan Kebangsaan Indonesia (PPPKI) I yang diselenggarakan 31 Agustus 1928, Ki Hadjar Dewantara menulis manusia merdeka merupakan manusia yang hidupnya lahir dan batin tidak bergantung kepada orang lain, tetapi bersandar atas kekuatan sendiri (Majelis Luhur Taman Siswa, 1962). Pendidikan menurut pandangan Engku Mohammad Syafei, pendiri INS Kayutanam, harus bertumpu pada intelektualitas, kepekaan kemanusiaan, dan keterampilan (Sularto, 2016)

Mendidik bukanlah perkara mudah. Apalagi mendidik anak-anak generasi milenial saat ini. Guru harus mengeluarkan beragam amunisi kreativitas untuk melancarkan proses pembelajaran. Guru konvensional yang hanya mengandalkan ceramah pasti ditinggal peserta didik. Tidur dan memeriksa gadget tentu lebih menarik ketimbang mendengarkan seorang guru berceramah selama berjam-jam. Harus ada kemasan baru dan segar dalam setiap kali pembelajaran. Guru-guru yang hanya mengulang materi pelajaran yang sama dari tahun ke tahun tanpa mencoba mencari referensi baru seperti penyanyi yang memutar kaset yang itu-itu saja. Membosankan. Guru jenis itu sudah pasti ditinggalkan zaman yang berlari cepat.

Di sisi lain, di tengah minimnya keteladanan, guru harus menjadi garda terdepan mempraktikkan nilai-nilai kebaikan hidup. Ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantara 'Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani' patut ditengok kembali. Guru adalah teladan, pemberi motivasi, dan pendorong. Pada praktiknya, guru harus mampu meyakinkan para peserta didik bahwa nilai-nilai kebaikan dan cerita mengenai tokoh-tokoh yang memiliki integritas bukan hanya ada di negeri dongeng. Memberikan para siswa beragam kisah tak akan berhasil mengubah perilaku mereka. Apalagi jika hanya mengandalkan ceramah-ceramah.

Guru tidak boleh terjebak pada proses pendidikan yang hanya bertujuan menghasilkan para kampiun. Atau sekadar meluluskan anak-anak bangsa yang terampil dan mumpuni nilai akademiknya. Tugas guru mendidik lebih dari itu. Tugas besar guru ialah membangkitkan setiap potensi para peserta didik dan mengoptimalkannya. Para peserta didik merupakan masa depan bangsa yang perlu dibangun jiwa dan raganya.

Mendidik adalah upaya menebar kasih, maka tindakan kekerasan fisik maupun simbolis harus dihindarkan. Menghardik, mencubit, dan memukul merupakan jalan pintas bagi guru yang sudah habis akal. Penggunaan kekerasan dalam proses pendidikan hanya berdampak buruk pada mentalitas peserta didik. Tentu saja berbahaya jika para peserta didik lebih senang menggunakan kekerasan jika dibandingkan dengan mengedepankan upaya dialog. Ruang-ruang kelas harus menjadi arena bagi pembiasaan berdialog yang konstruktif.

Guru menulis, menginspirasi

Tugas besar guru lainnya ialah menularkan semangat membaca dan menulis kepada para peserta didik. Dengan banyak membaca, seorang guru tidak akan terjebak pada kebekuan dan kebuntuan karena mereka senantiasa memperbarui pengetahuan yang dimilikinya. Dengan menulis, seorang guru berusaha membagikan pengetahuan yang ia miliki kepada khalayak yang lebih luas melampaui sekat-sekat ruang pembelajaran di kelas. Melalui tulisan, seorang guru berusaha menyebarkan gagasannya kepada 'ruang kelas' yang lebih luas. Ketika tulisan yang dibuat dapat menginspirasi banyak orang, sesungguhnya ia telah menghasilkan amal jariah yang berlipat ganda.

Apa yang dapat ditulis guru? Banyak hal yang dapat guru tuliskan. Guru menuliskan ulasannya terhadap buku yang telah dibaca, metode pembelajaran, kiat mengajar, ataupun gagasannya tentang pendidikan. Bisa juga menuliskan kegelisahannya terhadap fenomena sosial yang ia hadapi. Dengan tulisannya, guru dapat memberikan pengingatan kepada publik, hal yang luput dari pandangan mata.

Guru dapat memanfaatkan koran, blog, ataupun media sosial yang dimiliki untuk menyebarkan tulisannya. Beragam media dapat menjadi ruang mendiseminasikan gagasan atau praktik yang sudah mereka lakukan di dunia pendidikan. Ruang-ruang online itu harus direbut guru dan diisi dengan beragam kisah mencerahkan dan mencerdaskan.
Pengalaman seorang guru jika tidak dituliskan hanya akan menjadi kisah yang dikenang orang-orang di lingkaran terdekat saja. Tentu amat disayangkan jika pengalaman yang kaya hanya menguap di ruang kelas. Pengalaman berharga bertemu dengan beragam karakter anak didik harusnya dapat dinikmati kalangan yang lebih luas.

Tokoh-tokoh seperti Soekarno, Hatta, Agus Salim, Natsir, Kartini, Tan Malaka, Ki Hadjar Dewantara, Pramoedya A Toer, Soe Hok Gie, HAMKA, dan Ahmad Wahib sangat dikenal mewariskan tulisan-tulisan yang menginspirasi. Meskipun mereka sudah tak hadir secara fisik, karya-karya mereka terus diperbincangkan, diperdebatkan, dan disebarluaskan.
Tepat sekali ketika Pramoedya Ananta Toer menyatakan, "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian." Seseorang akan diingat lebih panjang jika dibandingkan dengan 'jatah' umurnya di dunia karena ia menulis. Ketika seorang guru menulis, mereka telah menjaga warisan keilmuannya abadi dan tidak hilang dari catatan sejarah.

Para guru merupakan manusia tahan uji yang senantiasa berposisi sebagai penjaga nalar anak bangsa. Kerja panjang melelahkan yang tak pernah usai. Hanya guru yang memiliki napas panjang yang dapat melakukannya. Guru yang mencintai bangsa Indonesia dengan sepenuh hati dan menyadari bahwa mendidik merupakan upaya menunaikan jihad kebangsaan.

Kenaikan Isa Al Masih, Ramadan, dan Persaudaraan

Kenaikan Isa Al Masih, Ramadan, dan Persaudaraan
Tom Saptaatmaja ;   Teolog Alumnus Seminari St Vincent de Paul dan Sekolah Tinggi Filsafat Widya Sasana Malang
                                                          KOMPAS, 24 Mei 2017




                                                           
ADA dua peristiwa keagamaan yang berdekatan bulan ini. Pada 25 Mei 2017, umat kristiani merayakan kenaikan Isa Al Masih (Yesus Kristus). Pada 27 Mei 2017, umat Islam mulai memasuki bulan suci Ramadan untuk berpuasa sebulan penuh. Peristiwa kenaikan Yesus terjadi 40 hari setelah Paskah. Yesus terangkat naik ke langit kemudian hilang dari pandangan setelah tertutup awan. Kenaikan itu disaksikan murid-murid-Nya, seperti dicatat Perjanjian Baru. Setelah kenaikan itu, umat kristiani (juga Islam) yakin Yesus atau Isa Al Masih masih akan datang kembali pada Hari Kiamat.

Tentu bukan sebuah kebetulan jika perayaan kenaikan Yesus dan bulan Ramadan tahun ini berdekatan. Boleh jadi, kedekatan ini punya pesan agar kita umat Kristen dan muslim mau terus belajar membina kedekatan dan persaudaraan. Terlebih di negeri yang majemuk ini, kedekatan atau adanya relasi yang baik antara umat kristiani dan muslim menjadi vital sekali bagi perjalanan bangsa ini.

Kita sudah melihat sendiri bagaimana politisasi agama dalam pilkada, misalnya, sungguh sangat mengganggu kehidupan bersama kita dan menimbulkan kegaduhan yang hingga detik ini belum mereda setidaknya di medsos. Maka seiring dengan kenaikan Yesus dan Ramadan, kedua umat samawi ini perlu mencari pijakan untuk membangun hidup bersama di negeri ini dengan terus saling menyapa, mengupayakan dialog dan persaudaraan agar bisa berkontribusi bagi bangsa.

Jika masih ada rasa jemu atau keengganan untuk memulai pendekatan, kita seharusnya sadar bahwa dalam relasi apa pun, bahkan di dalam keluarga dan antara saudara kandung saja, bisa terjadi gesekan atau konflik. “Pernahkah ada suatu zaman dalam sejarah manusia yang luput dari konflik?” tanya Ralph l Holloway (1967).

Memang ada orang yang tergoda untuk terus memelihara konflik dengan berbagai argumentasi termasuk argumentasi teologis guna melestarikan konflik termasuk dalam relasi Kristen-Islam. Namun, cendekiawan muslim Mohammad Arkoun mengingatkan sudah saatnya umat Islam dan Kristen meninggalkan pendekatan konflik atau cara pandang antagonistis. Dalam buku Islam, Modernism and The West, Arkoun berharap agar cara pandang yang hanya mempertentangkan ditinggalkan dan sebaiknya lebih fokus pada kerja sama.

Peristiwa positif

Lagi pula dalam sejarah sebenarnya cukup banyak peristiwa positif lain dalam relasi Kristen-Islam. Nabi Muhammad SAW pada abad VI, misalnya, sudah mengajarkan bagaimana harus menyikapi perbedaan agama tanpa bersikap diskriminatif. Ini bisa dilihat dari adanya Pakta Madinnah yang terkenal itu. Apalagi Nabi Muhammad memahami wahyunya sebagai kelanjutan dan pemenuhan dari tradisi alkitabiah Yahudi dan Kristen.

Rasa hormat beliau terhadap tradisi alkitabiah sungguh diperlihatkan dalam ajarannya. Misalnya dalam Surah Al-Maidah ayat 82 ada imbauan umat Islam bersahabat dengan umat Nasrani: “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: ’Sesungguhnya kami ini orang Nasrani’. Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat para pendeta dan rahib, (juga karena mereka sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.” Ayat itu secara tegas menunjukkan betapa umat Nasrani adalah kaum yang dipandang memiliki kedekatan dengan umat Islam.

Nabi junjungan umat Islam berani memberi jaminan kebebasan dan toleransi khususnya pada umat kristiani, yang ditandatangani beliau, berangka tahun 628 Masehi dan masih disimpan di Biara Santa Katarina di Sinai, Mesir (http://www.islamic-study.orgsaint_catherine_monastery .htm). Silakan tonton jaminan itu di Youtube. Contoh lagi, ketika Islam mengalami zaman keemasan, para cendekiawan atau pemimpin Kristen di Timur juga ikut berperan. Misalnya, pada zaman kekalifahan Abbasiyah dengan kafilah Al Mahdi (775-785) dan Harun al-Rasyid (785-809) yang disebut 'Golden Age' dalam sejarah Islam, para cendekiawan atau tabib Kristen biasa keluar masuk istana Kalifah al-Mahdi dan Harun al-Rasyid. Goenawan Mohamad dalam capingnya, Baghdad, juga menulis bagaimana kafilah Al Makmun (830) menyuruh Hunain bin Ishaq, seorang tabib Kristen, untuk mengoordinasi proyek penerjemahan risalah-risalah dari bahasa Aram, Pahlavi, dan Yunani ke dalam bahasa Arab (Tempo, 17-23 Februari 2003).

Dari Baghdad, proyek terjemahan itu juga menular ke Toledo di Andalusia pada abad XII. Pada akhirnya Toledo lebih bersinar. Banyak buku yang ditulis para filsuf Islam seperti al-Kindi, Ibn Sina, Ibnu Khaldun, Ibnu Rusyd, dan banyak lainnya, diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Andalusia, khususnya Toledo, banyak dikunjungi para pelajar Eropa. Dan setelah menyelesaikan studinya di Toledo, mereka kembali ke kampung halaman. Eropa yang semula ketinggalan zaman akhirnya bisa lahir kembali dan maju. Jelas dalam kemajuan ini ada kontribusi pemikiran Islam.

Semoga menginspirasi

Karena itu, gereja Katolik di bawah Takhta Suci Vatikan selama ini sangat setuju dengan pendapat Arkoun untuk lebih mengedepankan pendekatan kerja sama atau sinergi dalam relasi gereja dengan Islam. Namun, bukan berarti gereja hendak menutup mata pada fakta sejarah yang getir terkait dengan relasinya dengan Islam di masa silam. Dalam dokumen Nostra Aetate (terbit 1965), gereja sudah menyampaikan permohonan maafnya pada Islam dan bahkan mengakui kebenaran dalam Islam.

Takhta Suci juga sudah membentuk Pontifical Council for Interreligious Dialogue atau Dewan Kepausan untuk Dialog Antarumat Beragama. Tiap tahun dewan ini rutin menyampaikan ucapan selamat berpuasa atau berlebaran. Tahun lalu dewan kepausan yang dibentuk sejak 1965 itu juga mengundang puluhan tokoh agama termasuk Din Syamsuddin untuk berdoa bersama di Assisi, Italia (20/9/2016). Din yang juga menjabat sebagai Direktur Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) itu mengutip Surah Ali Imran ayat ke-64, mengajak umat berbagai agama, khususnya Yahudi dan Kristen, berpegang teguh pada landasan tunggal yang sama (‘kalimatun sawa’), yaitu dengan mengabdi hanya kepada Tuhan yang esa dan bekerja sama untuk kemaslahatan dunia. Paus Fransiskus amat terkesan atas sambutan Din. Kedua tokoh lalu berjabat tangan erat. Bahkan Din memohon Paus mendoakannya dan mendoakan Indonesia. Seiring dengan kenaikan Yesus dan Ramadan, semoga contoh-contoh positif di atas menginspirasi kita untuk membangun relasi harmonis dalam kehidupan sehari-hari demi Indonesia yang lebih baik.

Persatuan Indonesia dalam Ujian

Persatuan Indonesia dalam Ujian
M Alfan Alfian ;   Dosen Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Nasional, Jakarta
                                                          KOMPAS, 24 Mei 2017




                                                           
Harian Kompas (14/5/2017) merangkum sejumlah pendapat para tokoh nasional dalam merespons berbagai fenomena kebangsaan belakangan ini, dengan pesan utama agar "semua anak bangsa menahan diri".
Caranya, terutama dengan "tidak lagi menggelar aksi massa", mengingat hal demikian rentan memicu kondisi yang justru semakin membelah bangsa. Elite pemerintahan, partai politik, organisasi kemasyarakatan, tokoh bangsa, dan tokoh pemuda hendaknya segera menghentikan sikap saling berhadapan.

Rangkuman pendapat tersebut pada intinya mengisyaratkan bahwa persatuan Indonesia tengah menghadapi ujian berat di zaman kita. Kegelisahan terhadap ancaman disintegrasi bangsa, terkait berbagai kejadian belakangan ini, hendaknya dapat diambil pelajarannya oleh semua pihak. Potensi konflik sosial yang lebih luas sebagai dampak residu konflik politik nasional seusai Pilpres 2014, pasca-Pilkada DKI Jakarta 2017, maupun setelah vonis terhadap Basuki Tjahaja Purnama tidak boleh dibiarkan lepas kendali.

Pengelolaan manajemen kebangsaan, memang terutama menjadi tanggung jawab negara, tetapi tentu saja juga seluruh komponen bangsa Indonesia yang plural ini. Menahan diri, mencari jalan keluar bersama- sama dalam semangat hikmat kebijaksanaan dan persatuan Indonesia, semakin urgen untuk diprioritaskan.

Dinamika kehidupan bangsa yang sejak kemerdekaan meniscayakan penerapan sistem demokrasi yang kontestatif, lazim diakhiri oleh ikhtiar mempertegas kembali titik-titik temu kebangsaan. Konsensus kebangsaan tentu lebih utama ketimbang konflik yang terus terpelihara.

Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. Praktik demokrasi politik kontestatif di tengah masyarakat majemuk, bagaimanapun, selalu berhadapan dengan risiko menajamnya konflik akibat politisasi identitas.

Dalam kadar yang normal, kontestasi identitas lumrah saja apabila dikaitkan dengan konteks hak warga negara untuk menjadi pemilih model sosiologis. Berbeda dengan model psikologis yang mengidentifikasi dirinya dengan partai politik tertentu dan model pilihan rasional atau ekonomi politik, pemilih model sosiologis ditentukan oleh karakter sosiologis pemilih, terutama kelas sosial, agama, maupun etnis, kedaerahan atau bahasa (Mujani, Liddle dan Ambardi, 2011).

Politisasi identitas

Sejumlah analisis Pilkada DKI Jakarta 2017 menggarisbawahi semakin menguatnya fenomena politisasi identitas keagamaan pascatersebarnya pidato Basuki di Kepulauan Seribu.

Munculnya aksi 212 dan sejenisnya telah berimplikasi politis bagi penguatan sentimen identitas keagamaan dalam kontestasi Pilkada DKI 2017, kendatipun fenomena demikian segera menuai respons-meminjam Manuel Castells (1997)-politik "identitas perlawanan" (resistance identity) dari para penentangnya.

Karena itu, labirin politisasi identitas semakin rumit sekarang. Kontestasi politik identitas, kenyataannya tidak segera mereda pasca-Pilkada DKI 2017, melainkan cenderung meningkat terutama setelah vonis terhadap Basuki yang memperoleh respons luas di berbagai daerah.

Radikalisasi politik identitas yang bertendensi etnisitas bahkan telah merambah hingga ke daerah di luar Jakarta. Misalnya, ketika Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah berkunjung ke Sulawesi Utara menuai penolakan masif dan menegangkan di Bandara Sam Ratulangi Manado. Jor-joran massa memang tengah menggejala dewasa ini, dan sayangnya fenomena demikian mempertegas polarisasi politik yang berpotensi pada konflik sosial yang mengancam masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam konteks inilah semua pihak harus belajar. Konflik yang muncul sebagai dampak politisasi identitas itu jauh lebih berbahaya ketimbang konflik-konflik politik pragmatis. Identitas keagamaan dan etnisitas merupakan jenis yang dampak politisasinya sangat fatal.

Huntington (2004) mencatat, sesungguhnya identitas merupakan sesuatu yang dikonstruksikan (be constructed), di mana identitas ganda (multiple identities) dimungkinkan terjadi, mengingat identitas merupakan produk interaksi yang penonjolannya bersifat situasional. Politisasinya telah memancing penonjolan identitas secara konfrontatif dan polarisatif.

Snyder (1997) mencatat fenomena demikian sebagai konflik nasionalisme SARA (ethnic nationalism), merujuk mengemukanya solidaritas yang dibangkitkan oleh persamaan budaya, bahasa, agama, sejarah, dan sejenisnya. "Setiap gerakan yang menjauh dari demokrasi sipil dan mengarah ke demokrasi SARA," catat Snyder, "bakal merongrong perdamaian demokratis." Dalam konteks inilah, penting digarisbawahi, sejauh mana politisasi identitas mampu "merongrong perdamaian demokratis".

Identitas proyek

Dalam konteks kekuasaan dan identitas, Castells (1997) mencatat tiga jenis identitas, yakni identitas yang melegitimasi (legitimizing identity), identitas perlawanan (resistance identity), dan identitas proyek (project identity). Jenis identitas pertama dilakukan oleh institusi-institusi dominan untuk memperluas dan merasionalisasi dominasinya. Yang kedua, dibangkitkan oleh mereka yang berada dalam posisi yang dikecilkan atau distigmatisasi oleh logika dominasi. Yang ketiga terkait ikhtiar membangun identitas baru dengan mendefinisikan ulang banyak hal yang berdampak pada transformasi struktural.

Terlepas konteksnya ialah merespons globalisasi, konsep proyek identitas Castells tersebut bisa direfleksikan guna mengikhtiarkan suatu konsensus baru dalam kerangka menyegarkan kembali hakikat persatuan Indonesia. Persatuan Indonesia harus diturunkan dari sebatas jargon sila ketiga Pancasila ke dalam ikhtiar proyek identitas kebangsaan yang tanpa henti.

Membangun identitas baru dalam keindonesiaan mutakhir bukan berarti meniadakan atau mengingkari identitas keindonesiaan para pendiri bangsa (the founding fathers), tetapi justru memberi pemaknaan baru dan kontekstual yang selaras dengan dinamika, tantangan, dan kebutuhan hakiki bangsa di zaman kita.

Rekonstruksinya harus melibatkan seluruh komponen bangsa. Semuanya harus siap untuk saling belajar, tidak saja menghargai perbedaan dan toleransi, tetapi juga-di era kebebasan informasi ini-semua pihak agar mampu menahan diri untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang bisa saling melukai.

Tantangan bangsa Indonesia semakin kompleks. Bangsa ini semakin dituntut berlari cepat, bisa mandiri dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Persatuan Indonesia mutlak adanya.

Toilet

Toilet
Margaretha Sih Setija Utami ;   Dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata; Peminat Psikologi Kesehatan
                                                          KOMPAS, 24 Mei 2017




                                                           
"Revolusi Toilet" yang dicanangkan Steven Kandouw, Wakil Gubernur Sulawesi Utara (Kompas, 10/5), menarik untuk ditindaklanjuti. Sekali waktu saya meminta mahasiswa mengingat tempat paling tidak menyenangkan saat SD. Ternyata kebanyakan menuliskan toilet SD sebagai tempat paling tak menyenangkan karena kotor, menjijikkan, suasananya menyeramkan, dan cenderung diletakkan di pojok yang sepi.

Toilet makin dipersepsikan sebagai tempat tak menyenangkan karena guru sering menghukum dengan mengunci murid di dalam toilet atau menyuruh murid membersihkan toilet. Bahkan ada mahasiswa yang menulis: "Saat kami di SD, malaikat tidak mau tinggal di toilet, jadi para setanlah yang menungguinya."

Ada banyak hal mengapa toilet jadi tempat tak nyaman. Dua hal penting adalah, pertama, di Indonesia para murid SD adalah anak usia 7-12 tahun yang belum diajari bagaimana menjaga kebersihan toilet setelah mereka pakai. Yang membersihkan toilet di rumah orangtua atau pembantu. Murid SD ingin toilet bersih, tapi belum mampu menjaga kebersihan. Kedua, banyak dari kita yang belum memiliki kesadaran bahwa setelah menggunakan toiletkita harus membersihkannya sehingga orang lain yang akan menggunakan menjadi nyaman.

Menurut seorang ahli psikologi, Erik Erikson (1902-1994), anak usia 7-12 tahun tidak lagi dalam tugas perkembangan berkaitan buang air besar dan buang air kecil. Seharusnya mereka sudah lulus masa "toilet training". Kenyataannya, banyak murid SD kita belum mampu menggunakan toilet dengan benar. Hal ini diperparah sikap banyak orangtua yang suka hal-hal praktis sehingga anak dibiasakan menggunakan diaper (popok). Anak dibiarkan tidak belajar bagaimana mengeluarkan kotoran dalam dirinya secara tepat, tidak sembarang tempat dan waktu.

Erik Erikson menyatakan, seorang anak sangat tepat belajar toilet training di usia 1,5-3 tahun. Pada saat itu anak akan belajar kapan dan di mana melepaskan hal-hal yang dianggap kotor oleh lingkungan tetapi harus dilakukan karena tubuh sudah harus membuangnya. Kalau anak berhasil belajar toilet training ia akan punya autonomy yang tinggi dalam kehidupannya. Autonomy di sini diartikan sebagai kemampuan mengendalikan kehendak diri sendiri tanpa menyebabkan rasa sakit dan tidak nyaman lingkungannya. Anak yang tidak berhasil belajar toilet training akan mengalami rasa malu dan ragu-ragu dalam hidupnya.

Toilet training mengajari anak untuk menyadari apa yang dirasakan dalam tubuhnya, dan merencanakan kapan hal yang tidak mengenakkan tersebut harus dikeluarkan tanpa merugikan orang lain. Dalam toilet training anak akan belajar bahwa dirinya tahu tentang kondisi sendiri dan kondisi lingkungan, belajar bahwa dirinya bisa mengendalikan diri sendiri, dan dia belajar bagaimana membuat orang lain menjadi bahagia.

Dalam teori delapan tahap perkembangan psikososial, Erik Erikson mengatakan, kegagalan tahap awal akan memengaruhi tahap berikutnya. Membaca keprihatinan Steven Kandouw, kita perlu merenungkan seberapa besar keberhasilan toilet training kita selama ini. Mungkinkah ini sebagai salah satu titik awal pembentukan karakter bangsa kita yang kurang berhasil?

Toilet training yang tidak berhasil juga memengaruhi perkembangan psikologis dan sosial individu tersebut. Dalam kehidupan orang dewasa saat ini, kita bisa membaca di media sosial banyak orang yang tidak paham kapan mengeluarkan rasa tidak enak dalam dirinya secara tepat. Media sosial menjadi "sungai" tempat primitif kita membuang kotoran tanpa memikirkan bahwa apa yang kita keluarkan dapat "menularkan penyakit" bagi orang lain. Banyak kata kotor yang berasal dari kekesalan dalam diri yang kemudian dikeluarkan sembarang tempat dan waktu. Pelaku merasa benar karena orang lain juga berbuat hal yang sama.

Semoga "Revolusi Toilet" Bapak Steven Kandouw jadi gerakan kita bersama bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara psikologis, bukan hanya untuk orang dewasa, tapi juga anak-anak, generasi penerus kita.