Rabu, 17 Mei 2017

Dramatisme Politik

Dramatisme Politik
Garin Nugroho  ;   Budayawan; Pengajar Pascasarjana ISI Surakarta
                                                          KOMPAS, 16 Mei 2017



                                                           
Mengikuti percakapan masyarakat tentang tokoh-tokoh politik beserta peristiwa yang mengikutinya, layaknya mengikuti tokoh-tokoh dalam seri drama populer televisi.  Selain dipenuhi gosip, juga aksi dukungan pro dan kontra hingga respons publik serba seketika; baik respons serba olok-olok, debat cair dan serius, maupun saling membuli. Bahkan, acap kali bersaing pamer kekuatan massa pendukung dengan beragam bentuk aksi melahirkan drama politik tak berkesudahan.

Masyarakat melodramatik

Dramatisme politik sebagai kajian budaya politik sangat tepat untuk mengkaji tokoh politik dan respons publik di negeri ini. Memungkinkan mengonseptualkan kehidupan politik beserta respons masyarakatnya sebagai hubungan penonton dengan tontonan drama. Kajian semacam ini memberi ruang luas menganalisis pilihan retoris tokoh-tokoh politik serta respons khalayak terhadap politik itu sendiri maupun dampak psikologi massa berbangsa yang menghidupinya.

Gejala ini bertumbuh seiring munculnya masyarakat televisi berikut seri opera sabun sebagai tontonan populernya. Akibatnya, lahirlah masyarakat melodramatik, segala aspek kehidupan menjadi populer serta dikonsumsi sekiranya dihadirkan penuh drama. Sebuah gejala sosial yang melahirkan masyarakat gosip serba euforia massa ketimbang masyarakat data-fakta berbasis nalar.

Ciri penting dramatisme politik adalah kemampuan melahirkan berbagai peristiwa yang mampu mengelola emosi khalayak, sekaligus mengundang respons massa yang melahirkan aksi dramatik. Ciri ini bertumbuh subur mengingat bahwa masyarakat melodramatik ditandai dengan karakter berlebih-lebihan alias lebai serta mudah jatuh cinta secara komunal atas dasar perspektif yang beragam; baik dari agama, kesukuan, kelas sosial, profesi, atau cara berpikir, hingga gaya hidup baru maupun kompetisi kekuasaan. Simak peristiwa Monas 212 hingga dukungan karangan bunga untuk Ahok berikut serial aksi lainnya.

Dramatisme politik mendapat pegas pertumbuhan lewat percepatan tekno-kapitalis media sosial baru. Melahirkan masyarakat hiper-media tanpa proses baca-tulis yang kuat, menjadikan hilangnya nilai berproses dan analisis setiap informasi, cenderung memunculkan kebebasan berbicara spontan tanpa etika dan referen pengetahuan. Dengan kata lain, dunia maya menjadi warung kopi politik baru yang buka dua puluh empat jam, melahirkan era masyarakat politik maya penuh euforia kebebasan berbicara disertai pamer aksi yang efektif tampil dalam ruang media sosial ataupun ruang publik nyata.

Bisa diduga, tokoh politik berikut peristiwanya menghadapi percepatan respons dalam karakter digital, yakni serba seketika, serba bebas, serba selintas, serba melipatgandakan maupun manipulasi. Percepatan ini seiring dengan daya hidup media sosial baru yang memberi ruang eksplorasi follower alias pendukung lewat beragam formula. Akibatnya melahirkan kompetisi dukungan sekaligus beragam konflik dunia maya yang memberi ruang besar manipulasi politik.

Harap mafhum, dramatisme politik mampu meluas dalam aksi dunia nyata, memperkokoh hukum melodrama yang mampu mengeksploitasi emosi warga sebagai penonton, penuh nuansa konflik serba tak terduga dan susul-menyusul layaknya seri drama televisi. Bisa diduga ia berpotensi menjadi drama besar penuh luka maupun tragedi bangsa. Sebuah dramatisme politik dengan dampak luka psikologi massa berbangsa yang tidak bisa diremehkan bagi kehidupan bangsa ke depan.

Catatan yang perlu digarisbawahi, era ini melahirkan masyarakat politik baru dengan tokoh baru, yakni tokoh-tokoh politik yang mampu dihidupi dan menghidupi dunia maya, tetapi sering kali tidak cukup mampu jadi negarawan dalam mengelola kehidupan politik yang nyata.

Beragam paradoks

Hukum drama yang populer senantiasa ditandai beragam paradoks, baik pada karakter tokoh-tokohnya maupun peristiwa dramanya untuk mengundang sensasi perdebatan. Simak, meski demokratisasi media sosial baru mendorong demokrasi yang terbuka, ia sekaligus melahirkan masyarakat serba fanatik baru, baik atas nama agama maupun kebebasan tanpa etika.

Demokratisasi menjadi serba massa, serba berkubu, serba saling menghinakan, serba menyerang serta menghakimi menurut perspektif masing-masing dalam karakter hitam putih. Akibatnya, ruang mengkritisi diri serta dialog menghilang. Individu warga menjadi penggemar fanatik yang tak lagi kritis pada pilihannya.

Politikus baru era dunia maya menjadi penuh paradoks. Di satu sisi ia memungkinkan lahirnya politikus muda yang otentik. Namun, celakanya, mayoritas politikus dunia maya cenderung serba tanpa proses, serba vulgar, serba emosional, serta artifisial, layaknya karakterisasi tokoh utama dalam seri drama televisi populer: karakter yang semata dibangun untuk menumbuhkan rating alias kepopuleran lewat formula serba pamer perhatian.

Ironi politik terjadi, yakni menghilangnya negarawan-negarawan bersahaja yang menuntut pemikiran serta tindakan matang dalam berbangsa dan bernegara, yang tak mampu hidup dalam masyarakat politik baru dunia maya yang serba selintas.

Agaknya, era politik dewasa ini adalah era politik dalam dramaturgi baru. Situasi ini menuntut cara baru kerja negarawan agar demokratisasi tidak menjadi keriuhan serba dangkal, vulgar, artifisial, tetapi kehilangan nalar layaknya seri drama populer di televisi hari ini.