Rabu, 17 Mei 2017

Mengurai Ketegangan Anak Bangsa

Mengurai Ketegangan Anak Bangsa
Hasanudin Abdurakhman  ;   Cendekiawan; Penulis;
Kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia
                                                      DETIKNEWS, 15 Mei 2017



                                                           
Sepanjang sejarah, kita sudah sering konflik. Konflik antaranak bangsa karena perbedaan suku, agama, atau karena hal lain. Kerusakan yang ditimbulkannya tidak kecil. Kerusakan fisik dalam skala triliunan rupiah. Tapi, yang lebih menyedihkan adalah korban jiwa manusia.

Korban berbagai konflik itu sudah begitu banyak, terlalu banyak. Karena itu konflik harus dicegah, jangan sampai terulang.

Dari begitu banyak konflik, sayangnya, kita tidak mendapat informasi yang tegas soal apa latar belakangnya. Juga jarang ada tindakan hukum yang memadai terhadap pelaku kejahatan selama konflik berlangsung. Yang ada biasanya analisis pada level gosip, mencoba menjelaskan situasinya secara teoretik.

Sesekali ada tim pencari fakta. Tapi, hasil kerjanya tak pernah jelas. Kalaupun ada, tidak ada tindak lanjut yang jelas.

Konflik itu ada miripnya dengan kecelakaan; sebab-sebabnya bisa kita pelajari. Kita sebenarnya bahkan bisa merasakan dan melihat. Hanya saja, dalam hal konflik, ada faktor-faktor yang tak terlihat, sehingga sering kita melihatnya sebagai potongan mozaik-mozaik. Yang menghubungkannya sering kali adalah gosip-gosip tadi.

Sering kita dengar penjelasan, atau analisis tentang konflik. "Ini bukan soal agama, ini semata soal kesenjangan." Tapi, apakah kita bisa percaya kesenjangan saja bisa menimbulkan konflik? Sesederhana sejumlah orang miskin menyerang orang kaya? Tentu, tidak! Penjelasan tadi terasa seperti sebuah simplifikasi, bahkan terkesan ingin menutupi fakta tertentu. Tentu saja faktor kesenjangan ada. Tapi, apakah itu satu-satunya faktor?

Benarkah tidak ada faktor agama yang bermain dalam konflik? Atau, sebenarnya faktor itu yang dominan? Kalau ada, bagaimana detailnya? Hal-hal seperti ini tidak pernah dibahas secara terbuka. Orang cenderung fokus pada usaha memadamkan konflik belaka. Setelah itu, mereka mencoba melupakannya. Atau, berpura-pura, seolah konflik itu kejadian insidental saja. Padahal faktanya konflik itu berulang.

Kenapa tak mau membahasnya? Saya khawatir, itu tanda adanya persoalan yang lebih besar. Sedikit orang yang mau mengakui perasaan mereka soal agama lain. Banyak orang yang tampil seperti orang yang menghargai keragaman, tapi jadi berbeda saat berada dalam komunitas tertutup.

Tidak sedikit pula yang bergaul baik dengan orang berbeda iman, tapi punya pikiran yang sebenarnya radikal soal orang yang tak seagama dengannya. Demikian pula soal etnis. Ada orang yang begitu rapat bergaul, berbisnis dengan orang-orang dari etnis tertentu, tapi sebenarnya ia menyimpan stereotip negatif tentang etnis tersebut.

Usaha-usaha dialog antaragama, atau antaretnis bagi saya lebih sering merupakan seremoni belaka. Jarang ada dialog yang benar-benar jujur soal apa yang kita rasakan, dan bagaimana kita memandang kelompok lain. Padahal ini penting. Sering kali kita tidak sadar soal apa efek tindakan kita terhadap pihak lain. Tanpa umpan balik dari mereka, kita seperti tak punya cermin untuk melihat diri kita sendiri.

Menurut saya, penting bagi kita untuk punya forum dialog, tempat kita bisa bebas mengatakan apa yang kita rasakan tentang pihak lain. Termasuk soal hal-hal yang tak ingin mereka dengar sekalipun. Sebaliknya, pihak sana juga boleh bicara dengan cara yang sama tentang kita. Kita perlu melihat sosok kita masing-masing, dalam pandangan orang-orang di pihak lain.

Kongkretnya bagaimana? Saya pernah berdialog melalui mailing list lintas agama. Ketika itu ada kejadian gereja dibakar. Tentu saja itu menjadi keprihatinan teman-teman Kristen. Saya sampaikan bahwa dalam ajaran Islam, merusak rumah ibadah orang adalah perbuatan terlarang. Bahkan dalam suasana perang pun hal itu terlarang. Lalu, kenapa orang sampai jadi begitu?

Saya jelaskan soal psikologi umat Islam dalam memandang agama Kristen. Saya katakan bahwa ada orang-orang Kristen yang begitu agresif melakukan penginjilan, dengan target menambah jumlah pengikut. Itu sungguh meresahkan bagi umat Islam. Bagi mereka, agama Kristen adalah ancaman. Tak sedikit teman-teman Kristen saya yang terkejut dengan pernyataan itu.

Mereka tak menolak adanya kelompok seperti itu di tubuh umat Kristen, tapi memberi catatan bahwa kelompok seperti itu hanya minoritas di kalangan mereka. Tapi, peringatan saya itu membuat mereka menjadi lebih mawas diri. Seperti itulah.

Tak ada yang perlu ditakutkan dengan dialog yang jujur dan berterus terang. Syaratnya, kita ingin cari solusi, bukan mencari pihak lain untuk disalahkan. Bagi saya, ini adalah langkah penting untuk mengurai ketegangan antarkelompok, yang menjadi bahan bakar konflik.