Kamis, 11 Mei 2017

Gerakan Literasi tanpa Campur Tangan Negara

Gerakan Literasi tanpa Campur Tangan Negara
AS Laksana  ;   Esais dan Cerpenis, tinggal di Jakarta
                                                        JAWA POS, 08 Mei 2017



                                                           
ADA kabar baik yang saya baca di koran hari Sabtu, 6 Mei 2017, tentang gerakan literasi. Komunitas-komunitas di berbagai daerah semakin bergairah dalam menyebarkan ”virus” gemar membaca. Orang-orang yang peduli untuk ikut melahirkan generasi gemar membaca, yang menginginkan masyarakat menjadi lebih cerdas, terus berupaya sebisa mereka dalam mendorong masyarakat, terutama anak-anak, agar memiliki kebiasaan membaca buku.

Mereka mencoba untuk mengakrabkan masyarakat dengan buku bacaan. Mereka bergotong royong mengumpulkan buku-buku dan menyumbangkannya kepada masyarakat yang kesulitan mendapatkan buku. Mereka menciptakan lingkungan gemar membaca serta mengangkut buku ke daerah-daerah yang jauh dari jangkauan industri perbukuan dan sebagainya.

Pemerintah dan institusi-institusi resmi belum memiliki gairah seperti para aktivis untuk membuat masyarakat kita gemar membaca buku. Namun, saya tetap berharap suatu saat pemerintah akan tersadar dan mulai membuat kampanye besar-besaran seperti kampanye program keluarga berencana yang berhasil di waktu lalu, tetapi kali ini dengan semboyan: Banyak membaca banyak rezeki!

Saya sendiri tidak memiliki daya tahan dan kegigihan sebagaimana yang dimiliki para aktivis perbukuan, juga tidak pernah melakukan kebajikan yang tak kenal lelah seperti mereka. Paling-paling saya hanya sibuk memikirkan bagaimana membuat anak-anak saya suka membaca dan menyediakan buku-buku yang saya pikir perlu mereka baca. Itu tindakan normal saja sebagai orang tua. Di luar itu, saya tidak sanggup.

Tetapi, apa sebenarnya yang bisa diharapkan dari anak-anak yang suka membaca? Mereka akan terlihat sebagai pemalas yang duduk berjam-jam dan hanya membuka-buka halaman demi halaman buku di tangan. Sesekali mereka akan mengubah posisi dari duduk menjadi meringkuk seperti kepompong. Sering anak yang sedang asyik masyuk membaca buku tidak memedulikan hal-hal lain di sekitarnya, tidak mendengar suara panggilan, dan tidak lekas mengerjakan perintah. Anak-anak yang terlalu asyik dengan buku sering membuat ibu mereka jengkel dan berteriak-teriak. Anak saya yang paling senang membaca juga sering membuat ibunya jengkel.

Masalah selanjutnya, apa buku-buku yang sebaiknya mereka baca? Kegemaran membaca tentu saja perlu didukung dengan ketersediaan buku-buku bagus, baik fiksi maupun nonfiksi, baik sastra maupun buku-buku ilmu pengetahuan.

Anak-anak di negara berbahasa Inggris, yang perbukuannya maju, sejak kecil diperkenalkan pada karya-karya penulis besar seperti Shakespeare, Cervantes, Charles Dickens, Robert Louis Stevenson, dan sebagainya melalui versi saduran untuk pembaca pemula. Sejak kecil mereka akrab dengan nama-nama besar dan karya-karya besar sampai nanti membaca versi aslinya. Hampir semua novel klasik di sana punya versi saduran untuk pembaca anak-anak atau pembaca pemula.

Hal yang sama tidak bisa diterapkan di Indonesia. Kesastraan kita tidak memiliki versi anak-anak untuk buku-buku, misalnya, Layar Terkembang, Sitti Nurbaya, Belenggu, Jalan Tak Ada Ujung, dan tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Anak saya, kelas dua SMP, membaca Si Dul Anak Jakarta karya Aman Dt. Madjoindo. Dan dia membaca buku itu tidak selancar membaca buku-buku terbitan sekarang. ”Bahasanya lucu,” katanya. Tetapi, dia harus membacanya karena itu tugas sekolah. Artinya, sekolah memberi tugas kepada murid-murid untuk membaca buku yang tidak menarik dan buku yang tidak menarik, saya yakin, tidak akan membuat orang gemar membaca.

Jadi, sekali lagi, buku apa saja yang sebaiknya dibaca anak-anak?

Saya membuka mesin pencari internet dan mengetikkan kata kunci ”book recommendations library”, lalu menemukan daftar buku yang direkomendasikan oleh sejumlah perpustakaan. Untuk bacaan musim panas tahun ini, misalnya, New York Public Library merekomendasikan sejumlah buku. Antara lain Homo Deus (Yuval Harari), novel Haruki Murakami, dan buku George Orwell untuk pembaca dewasa. Perpustakaan tersebut juga merekomendasikan buku-buku untuk pembaca remaja dan anak-anak.

Selain perpustakaan, banyak pesohor di sana yang rajin membaca buku dan senang memberikan rekomendasi kepada publik. Bill Gates, misalnya, adalah seorang pembaca yang tekun hingga sekarang –dia masih memaksakan diri membaca satu buku seminggu– dan selalu memberikan rekomendasi kepada publik tentang buku-buku yang menarik untuk dibaca. Barack Obama juga tetap rajin membaca buku. Mark Zuckerberg tetaplah seorang pembaca buku yang lahap dan membuat klub buku di Facebook.

Elon Musk, orang terkaya di dunia urutan ke-21 menurut Forbes, seorang pengusaha, investor, sekaligus inventor yang mendirikan PayPal, perusahaan yang mengembangkan sistem pembayaran online, juga orang yang tetap senang membaca buku hingga sekarang. Dia terutama menyukai buku-buku riwayat hidup orang-orang besar. Buku-buku terakhir yang dia rekomendasikan, di antaranya, biografi terbaru Albert Einstein yang ditulis Walter Isaacson, penulis biografi Steve Jobs. Selain itu, dia merekomendasikan fiksi; kesukaannya adalah novel-novel fiksi ilmiah dan fantasi.

Saya tidak menemukan hal yang sama ketika mengetikkan pada mesin pencari ”buku rekomendasi perpustakaan nasional”. Perpustakaan kita tampaknya tidak memiliki kebiasaan merekomendasikan buku-buku apa yang sebaiknya dibaca orang-orang. Para pesohor kita juga rata-rata bukan pembaca buku. Dan sekolah-sekolah juga tidak membuat saran kepada murid-murid tentang buku apa yang sebaiknya mereka baca.