Rabu, 05 Juli 2017

Menakar Kesalehan Sosial Kita

Menakar Kesalehan Sosial Kita
A Helmy Faishal Zaini  ;   Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
                                                         KOMPAS, 24 Juni 2017



                                                           
Gemuruh takbir bergema menyambut datangnya Idul Fitri, sekaligus mengakhiri kekhusyukan umat Islam beribadah selama bulan suci Ramadhan. Gema takbir menjadi penanda kemenangan telah tiba.

Jika kita renungkan secara mendalam, gema takbir sesungguhnya merupakan ikrar dan pernyataan kita selaku hamba-hamba yang daif di hadapan Sang Khalik Yang Maha Agung.

Makna takbir, dalam hemat saya, sesungguhnya adalah keadaan menisbikan diri karena tak ada yang lebih besar dibandingkan dengan Allah SWT. Manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang penuh keterbatasan, kekurangan, dan kedaifan.

Menilik makna takbir secara ontologis yang demikian mulia, maka ketika mengucapkannya tidak boleh dibarengi dengan kesombongan dan keangkuhan diri. Sebab hal itu sejatinya bertentangan dengan hakikat takbir itu sendiri.

Menurut pakar bahasa Arab, Tamam Hassan (1988), makna takbir sejatinya adalah penisbatan sesuatu kepada yang lebih besar. Artinya jika kita bertemu benda, fenomena, atau hal-hal yang kita anggap besar, Allah SWT sesungguhnya jauh lebih besar dari semua itu.

Sejatinya Allah itu Maha Lebih Besar dari yang kita perkirakan. Kebesaran Allah jauh melampaui apa yang kita asumsikan. Sebab, asumsi dan perkiraan kita sebagai makhluk sangatlah terbatas.

Dalam bahasa budayawan Emha Ainun Nadjib (2016), memaknai kebesaran Allah harus bersifat dinamik, tidak statis. Seorang hamba yang benar-benar menemukan kebesaran Allah, akan senantiasa merendahkan diri di hadapan Allah.

Akurasi dalam memaknai takbir ini dalam pandangan saya akan sangat berpengaruh pada pola penghayatan keberagamaan kita. Semakin dangkal kita memahami arti takbir, semakin dangkal pula gerakan dan tindakan beragama kita.

Bahkan belakangan fenomena takbir banyak digunakan untuk sesuatu yang tidak tepat. Inilah letak pentingnya presisi dan akurasi pemaknaan yang berujung pada pemahaman yang baik.

Dalam pada itu, gema takbir yang menandai datangnya Idul Fitri membawa kita pada dua makna, yakni kemenangan dan kembali pada kesucian. Kemenangan yang dimaksud meminjam Al-Jurjani (2008) adalah kemenangan yang diraih seorang hamba karena berhasil berperang menaklukkan hawa nafsu selama sebulan penuh. Maka hal yang dianjurkan adalah fitr atau iftar yang artinya berbuka.

Ada sebagian yang memaknai Idul Fitri sebagai momentum kembali kepada kesucian diri. Makna ini sejalan dengan sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah "Inilah bulan yang permulaannya (10 hari pertama) penuh dengan rahmat, yang pertengahannya (10 hari pertengahan) penuh dengan ampunan, dan yang terakhirnya (10 hari terakhir) Allah membebaskan hamba-Nya dari api neraka."

Berangkat dari hadis inilah-yang membagi Ramadhan jadi tiga fase yakni rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka-seorang hamba yang berhasil menjalankan ibadah puasa selama Ramadhan berarti telah suci dari segenap dosa yang pernah ia perbuat. Itulah makna kembali ke fitrah atau kembali ke kesucian diri.

Kesalehan sosial

Dalam konteks Ramadhan, ibadah puasa sesungguhnya merupakan ibadah yang melatih kita berbela rasa terhadap sesama. Kita diwajibkan mengosongkan perut sampai berbuka puasa, itu artinya kita diajak untuk memahami suasana batin masyarakat miskin dan lemah. Masyarakat yang bukan saat bulan puasa saja menahan lapar, tetapi bahkan sepanjang tahun.

Selama Ramadhan kita diajarkan untuk berzakat, infak, dan sedekah untuk berbagi dengan sesama. Ajaran berderma terhadap mereka yang papa dan lemah, menjadi bukti bahwa agama amat menjunjung tinggi solidaritas kemanusiaan. Agama hadir dan berperan melindungi yang lemah.

Islam menjunjung tinggi kemanusiaan, membangun solidaritas sosial, terutama mengajak membantu kaum yang lemah. Dalam Al Quran Surat Al Maun, umat Islam diingatkan tentang makna penting membangun kesalehan sosial.

Tak tanggung-tanggung, Allah SWT mengecam manusia yang hanya mementingkan ibadah mahdlah, tetapi meninggalkan kesalehan sosial. "Fawailul lil mushollin. Alladzinahum an shalatihim sahun walladzinahum yurauna wayamnaunal maun".

Celakalah orang-orang yang lalai terhadap shalatnya. Yakni, orang-orang yang selalu berbuat dengan pamrih sehingga menghalangi diri dan orang lain untuk menolong siapa pun yang membutuhkan. Inilah bukti bahwa kesalehan yang berdimensi sosial menempati posisi yang sangat penting dalam agama Islam.

Dalam pada itu, pada konteks Idul Fitri dan kesalehan sosial ini, tradisi khas masyarakat Nusantara yang tidak ditemukan di belahan Bumi mana pun adalah tradisi halalbihalal. Tradisi ini lazimnya diisinya dengan kunjung-mengunjungi sanak-saudara, handai tolan, teman-sekerabat untuk saling meminta dan memberi maaf.

Halalbihalal tersebut merupakan salah satu ibadah berdimensi sosial. Ia memiliki ekses dan dampak langsung yang bisa dirasakan secara sosiologis. Sebagai bagian dari upaya menjaga harmoni, tradisi memaafkan yang tecermin dalam halalbihalal merupakan tradisi yang tidak bisa tidak, ia harus dilestarikan, dipertahankan, dan bahkan dikembangkan.

Salah satu bukti pentingnya dimensi sosial dalam ibadah tecermin dalam salah satu kaidah fikih al-muta'adi afdhalu minal qÃsir yang artinya ibadah-ibadah yang muta'adi (memiliki ekses sosial) lebih utama dibandingkan dengan ibadah yang sifatnya qasir (individual) semata.

Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW: "KhairunnÃs anfauhum linnÃsi”. Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya.

Sama persis dengan hal itu, maaf-memaafkan adalah ibadah yang memiliki ekses sosial yang sangat tinggi. Memberi maaf, meminjam istilah Mahatma Gandhi, adalah pekerjaan orang kuat. Orang-orang yang bermental lemah dan berpikiran cupet tidak akan pernah bisa memaafkan.

Pada titik ini saya ingin mengutip sejarawan besar Edward Gibbon (1999) dalam bukunya The History of The Decline and Fall of The Roman Empire, yang mengatakan bahwa a great civilization never goes down unless it destroy itself from within. Sebuah peradaban besar tidak bisa runtuh dan tenggelam, kecuali jika peradaban itu merusak diri dari dalam.

Kondisi ini sangat mungkin terjadi jika kita berkukuh dengan ego dan ngotot dengan kebenaran masing-masing. Merasa paling benar. Merasa yang lain di luar dirinya salah. Angkuh dan cenderung tidak bisa memaafkan pihak lain. Jika dibiarkan, sangat mungkin sindroma self destruction (merusak diri sendiri) yang pernah diungkapkan Presiden Soekarno, menjadi kenyataan. Kita pun tidak menginginkan.

Idul Fitri adalah momentum yang tepat untuk menyambut datangnya kemenangan. Kemenangan bagi mereka yang tak sekadar menjalankan ibadah mahdlah saja (hablum minallah), akan tetapi juga berlaku baik kepada sesama manusia (hablum minannas) dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih jauh, kita pun diajarkan untuk menjaga alam dan lingkungan (hablum minal alam). Semoga kita selalu diberi anugerah kesejukan dan keberkahan dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Wallahu a'lam bis showab.